BREAKING NEWS

M. Boechari, Epigraf dan Sejarawan yang Menterjemahkan Prasasti di Lampung

EFIGRAF - Prof. Dr. M. Boechari. Sumber foto hima.fib.ugm.ac.id yang disempurnakan Google Gemini. (Foto: Istimewa/UNGKIT.COM)


UNGKIT.COM - Prof. Dr. M. Buchari (ejaan lama: Boechari) (24 Maret 1927—28 Mei 1991) salah satu ahli epigrafi dan sejarawan terkemuka di Indonesia setelah kemerdekaan yang berkontribusi terhadap jejak sejarah di Lampung.

Boechari pernah melakukan penelitian, pengamatan dan menterjemahkan beberapa prasasti di Lampung, di antaranya Prasasti Hujung Langit (Situs Hara Kuning) di Dusun Hara Kuning Jaya, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat.

Kemudian, Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan dan bersama Hasan Djafar membaca serta menterjemahkan Prasasti Bungkuk yang ditemukan di Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung (sekarang masuk wilayah Kecamatan Marga Tiga), Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Siapa Boechari?

Di telinga orang awam, nama Boechari yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 24 Maret 1927 ini, memang tak begitu menonjol. Tapi, di kalangan pakar, khususnya sejarawan dan arkeolog, nama Boechari sudah lekat dengan epigrafi atau ilmu tentang prasasti. 

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki cita-cita sebagai arkeolog sejak di bangku HIK, Yogyakarta. Dia memulai tulisannya melalui program doktornya dengan tema Studi Beberapa Segi Struktural Kerajaan Mataram Kuno. 

Keahliannya membaca aksara-aksara kuno tidak diragukan lagi. Bahkan, kelebihannya yang tergolong langka itu sudah mencapai dunia internasional.

Di kalangan arkeolog, Boechari terkenal profil yang unik. Ini karena Boechari memperoleh gelar doktor pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI di Jakarta (1958) tanpa harus menulis disertasi sebagaimana kebiasaan dalam dunia pendidikan tinggi. 

Disertasi Boechari itu kumpulan artikel terpilih tentang epigrafi yang pernah dimuat dalam sejumlah penerbitan ilmiah. Rata-rata satu artikel panjangnya 40 halaman. 

Artikel-artikel tersebut dipilih oleh sebuah tim yang terdiri atas Prof. Haryati Soebadio, Prof. Koentjaraningrat, Prof. Harsya W. Bachtiar, dan Dr. Nurhadi Magetsari. 

Koentjaraningrat merupakan bekas gurunya di SMA, sedangkan ketiga nama lain koleganya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sebelum kelulusannya, ia melanjutkan kuliahnya pada Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuno Indonesia selesai pada tahun 1958, dan bekerja menjadi asisten pada Dinas Purbakala RI di Jakarta (1952-1958). 

Keahliannya di bidang epigrafi dan sejarah kuno Indonesia serta bakat dan perhatiannya dalam bidang pendidikan menyebabkan Boechari harus menyisihkan pula waktu untuk mengajar di Universitas Indonesia (1958-1966) dan Universitas Gadjah Mada (1959-1982) sebagai pengajar tidak tetap selain kesibukan dan tugas utamanya sebagai Kepala Urusan Prasasti di LPPN. 

Selain menjadi Kepala Lembaga Arkeologi, ia juga menjabat sebagai Dosen tetap pada Jurusan Arkeologi FSUI sejak 1967.

Dalam rangka kerja sama Kebudayaan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda, pada tahun 1971-1972 Boechari memperoleh beasiswa memperdalam epigrafi dan sejarah kuno Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. 

Pengetahuan dan pengalamannya diungkapkan dalam penelitian arkeologi epigrafi dan sejarah kuno serta berbagai kegiatan pengabdian masyarakat seperti kegiatan dalam rangka pemugaran Candi Borobudur sebagai Staf Ahli (1972-1983).

Kemudian, ia menjadi Staf Ahli pada Direktorat Perlindungan Dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (1979-1983), Staf Ahli pada Proyek Pemugaran Bekas Ibukota Kerajaan Majapahit (1983-1985) dan masih banyak lagi.

Boechari dikenal sebagai ilmuwan dengan reputasi internasional dan dianggap sebagai pembuka tabir kegelapan sejarah yang belum bisa dijelaskan oleh para ahli sebelumnya. 

Sumbangannya, terutama tertuang dalam kumpulan transliterasi prasasti-prasasti dan tulisan-tulisan yang membahas berbagai aspek arkeologi dan kesejarahan. 

Tahun 1972, Boechari diikutsertakan dalam panitia penyusun buku standar Sejarah Nasional Indonesia Jilid II: Sejarah Kuno. Hasil penelitian Boechari telah memberikan arti yang penting dalam pemaparan detail prosesual sejarah kuno Indonesia.

Prof. M. Boechari meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pada tanggal 28 Mei 1991 dalam usia 64 tahun. jenazahnya dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Jakarta. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment