Candi Orang Kayo Hitam, Peninggalan Masa Klasik Hindu-Buddha dan Islam di Jambi
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Candi Orang Kayo Hitam atau Situs Orang Kayo Hitam atau Situs Makam Orang Kayo Hitam, terletak di Desa Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Situs ini dapat dikatakan berjenis multi component sites, mengingat di lokasi ini terdapat beberapa jenis peninggalan dari masa berbeda, yaitu peninggalan masa klasik Hindu-Buddha dan Islam.
Masa klasik Hindu-Buddha ditandai dengan adanya tinggalan struktur bata kuno yang diduga sebagai candi Buddha beserta temuan pendukungnya, berupa tangan arca dan arca kepala berwujud singa.
Candi di Situs Makam Orang Kayo Hitam peninggalan bersejarah dari masa Hindu-Buddha yang ditemukan pertama kali tahun 1999, dengan ekskavasi dilakukan tahun 2000-2001 dan penemuan tambahan reruntuhan bata kuno tahun 2006.
Candi-candi yang dikenal sebagai Candi I, II, dan III ini, ditemukan melalui ekskavasi mulai tahun 1999 dan 2000-an, menjadi saksi bisu dari peradaban dan kepercayaan yang pernah berkembang di kawasan ini jauh sebelum Islam masuk.
Sedangkan, masa Islam diketahui dengan adanya tinggalan berupa makam yang dipercaya sebagai makam pendiri Kesultanan Jambi, yaitu Makam Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai bersama dengan makam kucing peliharaan serta makam Orang Kayo Pingai (kakak Orang Kayo Hitam) di seberang Sungai Batanghari.
Keberadaan makam dengan nisan batu andesit berukuran besar dan bentuk kurawal, serta bangunan candi yang tersisa di situs itu, mengingatkan akan pentingnya pelestarian warisan budaya agar tidak terlupakan oleh waktu.
Cerita Rakyat Orang Kayo Hitam
Orang Kayo Hitam atau Sayyid Ahmad Kamil, tokoh historis dan legendaris yang dikenal sebagai raja atau pemimpin di wilayah Jambi pada awal abad ke-16 Masehi atau sekitar tahun 1500–1515.
Orang Kayo Hitam putra dari Datuk Paduko Berhalo (Ahmad Salim atau Ahmad Barus II) dan Putri Selaras Pinang Masak.
Datuk Paduko Berhalo pendiri dan raja pertama Kerajaan Melayu Jambi yang berasal dari Kesultanan Utsmaniyah (Turki). Ia memerintah antara tahun 1460-1480 bersama istrinya, Putri Selaras Pinang Masak.
Masyarakat Jambi mengenal Orang Kayo Hitam (Bahasa Indonesia: Orang Kaya Hitam) sebagai pemimpin yang pemberani, sakti, dan berjasa besar dalam membangun fondasi kemandirian serta kejayaan wilayah Jambi.
Dalam cerita rakyat dikisahkan, Orang Kayo Hitam berani menolak untuk tidak membayar upeti kepada Kerajaan Mataram pada saat itu. Menurutnya, Jambi merupakan wilayah yang tidak tunduk kepada kekuasaan siapapun. Ia berani untuk mencegat pengiriman upeti, yang menimbulkan kemarahan dari Kerajaan Mataram.
Dalam melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Mataram, terlebih dahulu dia mengagalkan rencana pembunuhan terhadap dirinya. Ia berhasil mengambil sebuah senjata, yaitu keris sakti (awal dibuatnya keris itu untuk membunuh Orang Kayo Hitam).
Keris tersebut terbuat dari tujuh macam besi dengan diawali huruf " P ". Dia juga membersihkan keris itu di tujuh muara supaya kesaktiannya bisa menjadi sempurna.
Keris sakti tersebut bernama "Siginjai", Nama ini diambil dari kebiasaan dalam menyelipkan keris di sanggul rambutnya (seperti tusuk konde). Keris Siginjai menjadi simbol resmi bagi kedaulatan Jambi. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
