BREAKING NEWS

Candi Sipamutung, Peninggalan Kerajaan Pannai di Sumatera Utara

Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Candi Sipamutung atau Biaro Sipamutung, salah satu candi bercorak Buddha peninggalan Kerajaan Pannai di Kompleks Percandian Padang Lawas. 

Kerajaan Panai merupakan kerajaan bercorak Buddha Tantrayana yang pernah berdiri pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi di pesisir timur Sumatera Utara.

Secara administratif, candi ini terletak di Desa Siparau, kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. 

Terletak di Tepi Sungai Barumun

Secara geografis, Candi Sipamutung terletak di tepi Sungai Barumun yang membelah dataran rendah Padang Lawas. Bangunan ini diperkirakan berdiri pada abad 11 Masehi.

Candi Sipamutung, yang terbuat dari bata dan mempunyai luas lahan 6000 meter persegi dan luas candi 74 x 74 meter yang dikelilingi tembok bata ini, merupakan candi terbesar di Kompleks Percandian Padang Lawas.

Secara keseluruhan, Kompleks Candi Sipamutung, terdiri dari 1 bangunan utama dan 6 candi perwara dan 16 stupa. Bangunan utamanya memiliki luas 11 x 11 meter dan tinggi 13 meter yang terdiri dari bagian kaki, badan dan atap bangunan candi. 

Candi-candi perwara di sekitar candi induk berbentuk mandapa berdenah segi empat berukuran luas 10,25 x 9,9 meter dan tinggi 1,15 meter.

Candi perwara yang berada di kedua sisi candi induk berjumlah enam, ukurannya lebih kecil. Lima candi perwara di situs Candi Sipamutung terbuat dari batu bata, sedangkan satu candi perwara terbuat dari batu andesit. 

Selain bangunan candi, di situs ini terdapat temuan lepas, berupa makara dan fragmen arca Bhairawa. Pada bagian depan atau sisi timur, terdapat tangga naik menuju bilik yang di dalamnya tidak dijumpai arca. 

Atap Candi Sipamutung berbentuk segi empat bertingkat tiga. Dulunya, pada tingkat paling bawah di setiap sisinya dihiasi lima stupa, pada tingkat kedua di setiap sisinya ada empat stupa, dan tingkat paling atas terdapat satu stupa paling besar. 

Tapi, saat ini hanya ada tujuh fragmen stupa yang tersisa, yakni pada atap sisi utara. Sedangkan, stupa di sisi-sisi lainnya sudah hancur, termasuk kemuncak atapnya.

Penelitian, Pemugaran dan Pelestarian Kompleks Candi Sipamutung

Para ilmuwan Belanda, seperti   Schnitger, Van Den Bosch, Franz Junghun, von Rosenberg, Kerkhoff dan van Stein Callenfels mulai meneliti Candi Sipamutung dan candi lainnya di Kompleks Percandian Padang Lawas ini di akhir abad ke-19 dan abad ke-20 Masehi.

Publikasi paling lengkap diperoleh dari hasil penelitian Schnitger tahun 1936. Salah satu tulisannya yang menarik untuk diketahui, di halaman Candi Sipamutung ditemukan arca yang merupakan indikator Vajrayana. 
 
Vajrayana atau kadang ditulis Wajrayana, adalah suatu ajaran Buddha yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana.

Ini berkenaan dengan arca buaya yang digambarkan dengan wajah menyeramkan, dan dua buah arca raksasi dalam sikap anjalimudra, atau sikap telapak tangan beserta jari-jari yang menyembah. 

Menurut Schnitger, candi-candi di Padang Lawas dibangun bersamaan dengan stupa-stupa di Muara Takus, yaitu pada sekitar abad ke-12 Masehi. 

Sebelumnya, von Rosenberg tahun 1854 menemukan beberapa fragmen arca salah satunya arca Buddha yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. 

Tahun 1930, Bosch menulis tentang Padang Lawas dan mengajukan suatu teori bahwa masyarakat pendukung candi-candi di Padang Lawas pada masa Kerajaan Pannai adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayāna. Teori ini tentu mendukung pendapat Schnitger.

Setelah Indonesia merdeka, penelitian dilanjutkan oleh Dinas Purbakala di bawah pimpinan Satyawati Suleiman tahun 1953. 

Penelitian berikutnya dilakukan tahun 1973 dan 1975 oleh tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN), yang kini berubah nama menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional-- bekerjasama dengan the University of Pennsylvania Museum.

Penelitian selanjutnya pada tahun 1993 dan 1994 lebih menekankan pada aspek lingkungan, latar belakang pemilihan lokasi pembangunan komplek candi dan pendataan benda cagar budaya yang non insitu. 

Hingga saat ini penelitian terus digencarkan oleh lembaga yang berwenang seperti Balai Arkeologi Medan (Balar Medan) dengan berbagai kajian yang lebih lengkap dan interpretasi yang lebih dalam.

Upaya pelestarian pertama dilaksanakan oleh dee Han tahun 1926. Upaya ini dilatarbelakangi karena banyaknya kerusakan candi akibat digunakan sebagai lahan peternakan. 

Setelah Indonesia merdeka, upaya pemugaran dilakukan di Kompleks Percandian Padang Lawas. Tahun 2013, upaya pelestarian dilaksanakan dengan pembuatan cor beton pada atap pintu masuk Candi Sipamutung untuk mencegah runtuhnya bagian itu. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment