BREAKING NEWS

Debus, Atraksi Kekebalan Tubuh Khas Banten

Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Debus, kesenian bela diri tradisional khas masyarakat Banten yang menampilkan atraksi kekebalan tubuh terhadap senjata tajam, air keras hingga api.

Kesenian debus berawal pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingking pendiri Kesultanan Banten pada abad ke-16 Masehi. 

Semasa Sultan Banten Ageng Tirtayasa (1651—1692), kesenian debus berperan sebagai sarana untuk meningkatkan semangat perjuangan masyarakat Banten dalam menghadapi penjajahan Belanda. 

Etimologi Debus

Ada dua pendapat mengenai asal kata debus, yakni dari bahasa Arab atau Persia, dan bahasa Sunda. istilah debus dalam bahasa Arab atau Persia, yakni dabus, yang berarti tusukan. 

Pendapat ini dikaitkan dengan proses historis masuknya kesenian debus ke wilayah Banten melalui jalur penyebaran Islam, yang melibatkan peran Aceh sebagai salah satu pusat penyebaran dan adanya pengaruh budaya Persia. 

Pendapat lainnya menyebut, kata debus berasal dari bahasa Sunda, yaitu dari kata “tembus”. Kata itu merujuk pada praktik pertunjukan debus yang menggunakan benda tajam untuk ditusukkan ke tubuh pemain hingga tampak menembus tanpa menimbulkan luka. Pandangan ini didasarkan pada kesesuaian antara makna kata dengan bentuk peragaan dalam kesenian tersebut. 

Kedua pandangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan interpretasi mengenai asal-usul istilah debus, baik dari sudut linguistik maupun sejarah penyebaran budaya.

Beberapa sumber menyebutkan, debus berasal dari wilayah Timur Tengah, dengan nama Al-Madad, yang kemudian diperkenalkan ke Banten sebagai metode dakwah Islam. 

Sementara itu, ada pula yang mengaitkan asal-usul debus dengan tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang dibawa oleh pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908) ke wilayah Banten.

Atraksi Debus

Jenis-jenis atraksi debus dapat dikenali melalui beragam atraksi yang dipertunjukkan, yang mencerminkan tradisi, kepercayaan, dan ketahanan fisik para pemainnya. 

Atraksi itu, meliputi menusukkan tombak atau senjata tajam lain ke perut tanpa menimbulkan luka, mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok, serta menelan atau bermain dengan api. 

Beberapa pertunjukan menampilkan praktik menusukkan jarum ke lidah, pipi, atau bagian tubuh lain hingga terlihat menembus kulit tanpa pendarahan. 

Atraksi debus ada juga aksi menaiki tumpukan golok, berguling di atas pecahan kaca atau beling, menyiram tubuh dengan air keras tanpa menimbulkan cedera, menggoreng telur di atas kepala, bahkan membakar tubuh dengan api.

Saat ini, debus tidak lagi terbatas sebagai permainan tradisional yang ditampilkan dalam acara-acara masyarakat seperti pernikahan, khitanan, selamatan, dan berbagai bentuk kenduri lainnya. 

Kesenian tersebut telah mengalami perluasan fungsi menjadi sarana hiburan yang lebih luas, termasuk untuk menarik wisatawan mancanegara serta sebagai bagian dari penyambutan tamu resmi dari luar daerah oleh pemerintah setempat. 

Selain itu, debus juga kerap dipentaskan dalam berbagai kegiatan yang bersifat komersial, sehingga menunjukkan adanya perubahan peran dari fungsi ritual dan tradisional menuju fungsi hiburan dan pariwisata dalam konteks modern. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment