F.M. Schnitger, Sang Penguak Situs Purbakala dan Kerajaan Kuno di Pulau Sumatera
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Frederic Martin Schnitger, sering ditulis F.M. Schnitger, seorang arkeolog asal Hindia Belanda yang lahir pada 22 April 1912 di Malang, Provinsi Jawa Timur.
Namanya melegenda di Indonesia berkat dedikasinya dalam memimpin berbagai ekspedisi arkeologi dan antropologi di Pulau Sumatera pada dekade 1930-an.
Ia lahir dari orang tua berkebangsaan Belanda di Jawa (saat itu bagian dari Hindia Belanda). Ayah Frederic Martin Schnitger memiliki perkebunan tebu di Pulau Jawa dan ibunya seorang guru.
Schnitger menempuh pendidikan arkeologi serta bahasa-bahasa Timur di Leiden University dan melanjutkan studi doktornya di University of Vienna, Austria.
Dia mendalami bahasa-bahasa Timur, arkeologi, dan sejarah Asia Tenggara di Leiden University sebelum meraih gelar doktor dalam bidang etnologi di University of Vienna pada Februari 1938.
Pada tahun 1935, ia pergi ke Pulau Sumatera untuk penelitian arkeologi, dan membantu mendirikan Museum Palembang. Selama periode 1935–1938, ia menjabat sebagai konservator di Museum Palembang.
Schnitger melakukan ekspedisi menantang menembus hutan dan rawa Sumatera untuk meneliti peninggalan Hindu-Buddha. Wilayah penelitian utamanya meliputi kawasan Padang Lawas (Sumatera Utara), Muara Takus (Riau), serta situs-situs di Palembang dan Jambi.
F.M. Schnitger, di antaranya meneliti peninggalan menhir dan batuan megalitik di wilayah dataran tinggi Sumatera Barat hingga Sumatera Selatan, yakni Situs Megalitikum Lembah Maek dan Pasemah.
Di Riau, Schnitger melakukan penelitian struktur batu di Kompleks Candi Muara Takus dan memperkirakan waktu pembangunannya sekitar abad ke-11 atau ke-12 Masehi.
Di Sumatera Utara, ia menembus alam liar di sana untuk meneliti kompleks biaro (candi) Buddha kuno peninggalan Kerajaan Panai di daerah Padang Lawas.
Karyanya versi bahasa Inggris dari disertasinya yang berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatra, yang diterbitkan di Leiden tahun 1937, mendapat sambutan hangat dari para ahli.
Terlebih lagi, bukunya Forgotten Kingdoms in Sumatra, yang diterbitkan tahun 1939, yang hingga kini masih dianggap sebagai kontribusi penting bagi arkeologi dan etnografi Sumatera.
Karya legendaris Schnitger berupa catatan dan hasil analisis ekspedisinya yang dituangkan dalam buku-buku itu menjadi referensi penting yang hingga kini masih menjadi rujukan sejarah Nusantara.
Frederic Martin Schnitger meninggal dunia di Kamp Konsentrasi Mauthausen yang terletak di wilayah Danube, Austria, pada tanggal 23 April 1945, di era Nazi, Jerman.
Sebelum meninggal, Schnitger ditangkap dan didakwa oleh Gestapo dengan dua tuduhan, yakni dengan sengaja secara keliru menuduh beberapa orang telah melakukan kejahatan, dan melakukan kegiatan spionase yang berbahaya bagi Reich Jerman. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
