Kesenian Tradisional Nusantara Dikenal Luas dan Diakui di Kancah Internasional
Smallest Font
Largest Font
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Indonesia memiliki banyak ragam kesenian tradisional, yang beberapa di antaranya diakui dunia. Kesenian tradisional Nusantara yang telah dikenal luas dan diakui di kancah internasional itu, antara lain Gamelan, Angklung, Wayang Kulit, Tari Kecak dan Tari Saman.
Gamelan
Gamelan, ansambel musik tradisional Indonesia yang sebagian besar terdiri dari instrumen perkusi logam, seperti saron dan demang, gong, bonang, gendang dan kenong.
Saron dan demang, alat musik bilah logam yang ditabuh untuk membawakan balungan (melodi dasar). Sedangkan, gong instrumen besar penutup gongan atau penanda siklus lagu utama.
Termasuk dalam keluarga gong, gamelan juga diiringi kenong, alat musik gamelan Jawa yang bernada tinggi dan nyaring dibuat dari perunggu. Digunakan sebagai pengisi harmoni dalam permainan gamelan, kenong berfungsi sebagai penentu batas-batas gatra, menegaskan irama.
Sementara, bonang instrumen berpencon (menonjol di tengah) berbentuk seperti ceret yang ditabuh berpola, dan kendang instrumen pukul dengan tangan (membranofon) untuk mengatur irama dan tempo.
Gamelan berkembang di wilayah Jawa, Bali, hingga Lombok, serta menggunakan tangga nada pentatonis dalam sistem laras slendro dan pelog. Musik ini dimainkan secara kolektif untuk mengutamakan harmoni bersama daripada penampilan individu.
Selain sebagai hiburan dan pengiring tarian atau pertunjukan wayang, gamelan memiliki nilai spiritual, sarana pendidikan rasa keindahan, hingga kegiatan adat dan keagamaan.
Seluruh instrumen gamelan secara resmi diakui oleh UNESCO sejak 2021 sebagai salah satu Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Takbenda yang berasal dari Indonesia.
Angklung
Angklung sudah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.
Pada tanggal 16 November 2022, Mesin pencari terbesar, Google, memajang angklung di laman depan situs sebagai Google Doodle untuk merayakan Hari Angklung Sedunia.
Alat musik yang dibuat dari bambu bernada ganda dan berkembang dari masyarakat Sunda ini dibunyikan dengan cara digoyangkan.
Istilah kata angklung berakar dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan, yang menggambarkan gerakan pemain serta bunyi klung yang muncul.
Secara etimologis, kata ini terbentuk dari “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah, sehingga angklung dimaknai sebagai nada pecah atau nada yang tidak utuh.
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung yang baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda sekitar abad ke-12 sampai abad ke-16 Masehi. Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera.
Bunyi pada alat musik ini disebabkan oleh benturan badan pipa bambu, sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang jika mengering berwarna kuning keputihan. Tiap nada dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah tiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Wayang Kulit
Wayang kulit, seni pertunjukan tradisional Indonesia berupa teater bayangan boneka kulit yang berasal dari kebudayaan Jawa dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui UNESCO tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Sedikitnya ada empat karakteristik dan unsur dalam pertunjukan wayang kulit, yakni bahan dan pembuatan, dalang, lakon dan cerita serta musik pengiring.
Bahan dan pembuatan tokoh wayang terbuat dari kulit kambing, sapi atau kerbau yang ditatah (dipahat) dan disungging (diwarnai) secara detail.
Pertunjukan wayang dipimpin oleh seorang dalang yang memainkan karakter, mengatur narasi, bernyanyi (suluk), dan memberi aba-aba pada pemusik.
Pertunjukan seni wayang ini memiliki lakon dan cerita. Kisah yang dibawakan disebut lakon, umumnya bersumber dari epos Mahabharata dan Ramayana, atau cerita kreasi baru.
Pertunjukan tradisional wayang dihidangkan dengan iringan musik gamelan lengkap dan suara sinden, penyanyi wanita yang melantunkan tembang untuk mengiringi pementasan wayang kulit bersama alunan musik gamelan.
Diperkirakan, seni pewayangan, khususnya wayang kulit, sudah ada di Nusantara masa pemerintahan Raja Airlangga yang memimpin Kerajaan Kahuripan (1019–1046).
Karya sastra Jawa yang menjadi sumber cerita wayang telah ditulis oleh para pujangga Indonesia sejak abad ke-10, salah satunya Kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (898–910).
Kitab ini diperkirakan gubahan dari kitab Ramayana karya pujangga India, Walmiki. Pada masa itu, para pujangga tidak hanya menyadur kisah dari mancanegara, tetapi juga mengubah dan menciptakan karya sastra bersendikan falsafah Jawa.
Pertunjukan wayang kulit sendiri mulai dipertontonkan pada era Airlangga, sebagaimana tercatat dalam beberapa prasasti zaman tersebut yang memuat istilah mawayang dan aringgit, keduanya merujuk pada pertunjukan wayang kulit. Dengan demikian, kesenian wayang kulit telah ada sejak zaman Airlangga dan terus lestari hingga saat ini.
Berdasarkan kepercayaan dan sastra Jawa, wayang kulit dengan filosofi Islam diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo keturunan dari bangsawan Arya Wiraraja.
Berawal dari pengamatannya terhadap masyarakat Jawa yang sangat menggemari pertunjukan wayang beber, Sunan Kalijaga memanfaatkan seni tersebut sebagai media dakwah.
Karena ajaran Islam melarang penggambaran makhluk hidup secara realistis, Sunan Kalijaga mengubah bahan pembuatan wayang yang awalnya menggunakan daluang (kertas Ponoragan) menjadi kulit sapi atau kerbau. Wujudnya pun diubah menjadi stilasi visual atau bentuk abstrak.
Sejak saat itu, wayang kulit digunakan sebagai media syiar agama Islam melalui pendekatan budaya, lengkap dengan penyempurnaan karakter punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Dalam perkembangannya, saat ini pertunjukan kesenian wayang kulit tak hanya menjadi pertunjukan di Pulau Jawa, tetapi juga di Pulau Sumatera dan Kalimantan misalnya.
Selain itu, jenis-jenis wayang kulit pun beragam, seperti Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta, Wayang Kulit Gagrag Surakarta, Wayang Kulit Gagrag Banyumasan, Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran, Wayang Kulit Bali dan Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan).
Kemudian, Wayang Kulit Palembang (Sumatera Selatan), Wayang Betawi (Jakarta), Wayang Kulit Cirebon (Jawa Barat), Wayang Kulit Sasak (Lombok), Wayang Kulit Madura, Wayang Kulit Buntok (Barito Selatan) dan lain-lain.
Tari Kecak
Kecak, drama tari seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan puluhan penari. Tari Kecak menjadi pertunjukan yang unik karena pementasannya menggabungkan antara seni drama dan tari.
Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada dalam kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Tari Kecak pertama kali diciptakan dua tokoh, yakni penari asal Bali bernama Wayan Limbak dan seorang pelukis dari Jerman, Walter Spies. Tari Kecak yang terinspirasi dari tradisi Sanghyang itu pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an. Setelah itu, Wayan Limbak mempopulerkan tarian ini.
Kepopuleran tarian ini dimulai saat Wayan Limbak berkeliling dunia bersama dengan rombongan penari Bali dari sanggarnya. Hingga saat ini, Tari Kecak menjadi kesenian yang dapat dinikmati oleh banyak orang.
Tari Kecak dibawakan puluhan penari laki-laki yang duduk secara melingkar sembari menyerukan kata "cak" berulang-ulang sambil mengangkat kedua lengan. Suara "cak, cak, cak" berulang kali itu pula yang menjadi musik pengiring tarian tersebut.
Para penari yang duduk melingkar mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari tersebut, ada juga para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
Sesekali, terdengar suara kerincingan yang diikatkan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh dalam epos Ramayana. Pada satu segmen, mereka menirukan adegan saat barisan kera membantu Rama dalam pertempuran melawan Rahwana yang menculik Dewi Sita.
Cerita Ramayana yang menjadi inti dari Tari Kecak melambangkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan. Kemenangan Rama di akhir cerita menjadi pesan kalau kebaikan pada akhirnya akan selalu mengalahkan kejahatan.
Tari Saman
Tari Saman, tarian tradisional dari suku Gayo di Provinsi Aceh yang terkenal dengan gerakan cepat, kompak, dan serentak tanpa menggunakan alat musik pengiring.
Tari Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya yang menggunakan bahasa Gayo, seperti gerak guncang, kirep, lingang hingga surang-saring.
Tarian yang mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan ini diciptakan dan dikembangkan pada abad ke-14 Masehi oleh seorang tokoh ulama bernama Syekh Saman.
Tarian itu dulunya dari permainan rakyat bernama “pok ane” yang kemudian dimodifikasi menjadi media dakwah penyebaran agama Islam.
Tari rakyat dari masyarakat Suku Gayo yang pada tahun 2011 diakui oleh UNESCO sebagai warisan tak benda dunia ini, terdiri dari kelompok penari, gerakan, dan nyanyian.
Sebagai mukaddimah atau pembukaan sebelum tari Saman dimulai, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.
Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat.
Penyajian tari Saman tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara grup tamu dengan grup sepangkalan (dua grup).
Penilaian dititikberatkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari, dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.
Tari Saman umumnya dimainkan belasan atau puluhan laki-laki (perkembangannya dimainkan pula oleh wanita), tetapi jumlahnya harus ganjil. Pendapat lain menyebut, tarian ini ditarikan kurang lebih dari 10 orang, dengan perincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.
Di era modern menghendaki suatu tarian itu akan makin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak.
Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuk seorang pemimpin yang disebut syekh. Selain mengatur gerakan para penari, syekh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman, yaitu ganit.
Penampilan gerakan tari Saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian, yakni tepuk tangan dan tepuk dada.
Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, Syekh Saman mempelajari tarian Melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya.
Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.
Untuk menambah kedinamisan dari tarian Saman, para penari juga menyanyi. Cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam, masing-masing rengum atau auman yang diawali oleh pengangkat, dan dering atau rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
Kemudian, redet atau lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari, syekh atau lagu yang dinyanyikan seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak, dan saur atau lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari tunggal. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.