Kompleks Candi Padangroco, Peninggalan Kerajaan Bercorak Buddha di Dharmasraya
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Kompleks Candi Padang Roco (ditulis menyambung: Padangroco) peninggalan kerajaan bercorak Buddha di Dharmasraya, dan sebagai bukti kejayaan peninggalan Kerajaan Melayu atau Swarnabhumi, yang beribu kota di Dharmasraya sampai dengan abad ke-14 Masehi.
Kompleks Candi Padangroco ini dahulunya termasuk dalam wilayah Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung. Tapi, setelah adanya pemekaran wilayah, kini kompleks percandian itu berada di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.
Situs sejarah dan budaya yang berada di daerah aliran Sungai Batanghari, tepatnya di Jorong Sungai Langsat (Sei Langsek) ini, berada di sebuah pulau yang dipisahkan Sungai Dareh. Daerah Sungai Langsek sendiri merupakan lokasi ditemukannya lapik arca Amoghapasa yang dikirim oleh Raja Kertanegara ke Tanah Malayu.
Sejarah Pemerintahan dan Kompleks Candi Padangroco
Antara tahun 1286-1347 Masehi, wilayah Dharmasraya pernah menjadi pusat pemerintahan dan ibu kota Kerajaan Malayu dan telah diakui oleh para sarjana sejarah dan arkeologi.
Keberadaan percandian Padangroco saat itu menunjukkan wilayah Dharmasraya pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena itu dibuatlah candi-candi sebagai sarana ibadah raja, keluarga dan rakyatnya.
Secara keseluruhan, Kompleks Candi Padangroco terbuat dari susunan bata dan terdiri dari 4 candi lainnya, tiga di antaranya telah selesai digali dan dipugar, yaitu Candi Padangroco I, Candi Padangroco II dan Candi Padangroco III.
Candi Padangroco I
Candi Padangroco I merupakan candi induk dengan ukuran 21 x 21 meter dengan ketinggian struktur bata sekitar 90 centimeter, bagian tengah berisi tanah urugan dengan ketinggian sekitar 3 meter dan terdiri atas 22–26 lapis bata.
Bangunan induk, yang terbesar di antara tiga candi lainnya ini, mempunyai tangga masuk pada keempat sisinya dengan orinetasi barat daya-timur laut.
Lapisan fondasi untuk bagian kaki candi terdiri dari campuran pasir dengan kerikil dan kerakal batu setebal 80 centimeter.
Candi Padangroco II
Candi Padangroco II terbuat dari konstruksi susunan bata, berdenah bujur sangkar, dengan ukuran 4,40 x 4,40 meter. Tinggi bangunan yang masih tersisa sekarang 1,28 centimeter.
Pintu masuk dan tangga Candi Padangroco II yang merupakan candi perwara dari Candi Padangroco I ini arah hadapnya terletak di sisi barat, sehingga bangunan candi beroreintasi ke barat daya-timur laut.
Candi Padangroco III
Candi Padangroco III bangunannya dari struktur bata, memiliki denah bujur sangkar terdiri dari 3 undakan. Undakan pertama terletak paling atas berukuran 2 x 2 meter, dengan tinggi bangunan yang masih tersisa di bagian selatan, yang terdiri dari 7 lapis bata.
Pada bagian barat daya candi terdapat sebuah kolam, yang mungkin dulunya merupakan tempat mencuci kaki sebelum masuk ke candi. Sedangkan, Candi Padangroco IV masih berupa reruntuhan bata di sudut belakang Candi Padangroco II.
Candi Padangroco III ini terdiri atas dua bangunan. Bangunan pertama, candi dengan denah bujur sangkar dan berukuran sekitar 8,50 x 8,50 meter. Bangunan kedua, maṇḍapa dengan ukuran 13,50 x 8,50 meter dan berdenah empat persegi panjang.
Kedua bagian dari Candi Padangroco III tampak seolah menyatu berukuran 22 x 8,50 meter. Seharusnya, terdapat sisa tangga atau pintu di sisi barat daya kedua bangunan tersebut, tetapi tidak dapat ditemukan.
Kompleks Percandian Padangroco salah satu bukti eksistensi Kerajaan Malayu yang berpusat di Dharmasraya (Kabupaten Dharmasraya), sebelum dipindahkan ke pedalaman Sumatera (Saruaso) Kabupaten Tanah Datar.
Penemuan, Penelitian dan Pemugaran Candi Padangroco
Orang yang pertama kali melaporkan keberadaan candi di Padangroco adalah Verkerk Pistorius, saat ia melakukan penelitian kepurbakalaan di daerah aliran Sungai Batanghari pada awal tahun 1860-an.
Untuk memastikan adanya temuan, L.C. Westenenk, seorang controleur berkebangsaan Belanda mengadakan survei dan pemetaan di daerah penemuan candi di Padangroco.
Berdasarkan temuannya, di daerah tersebut terdapat sisa-sisa bangunan candi bata yang berbentuk gundukan. Gundukan itu dinamai munggu oleh penduduk setempat.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Van Stein Callenfels yang hasilnya menguraikan tentang adanya temuan sisa bata di daerah Padang Roco. Dari hasil temuan tersebut, F.M. Schnitger melanjutkan penelitian tahun 1935.
Kemudian, penelitian dilakukan oleh Puslitarkenas, SPSP Sumbar Riau dan Balar Medan. Berdasarkan berbagai penelitian tersebut, di kawasan Candi Padangroco ditemukan adanya parit keliling candi serta temuan keramik dari berbagai masa.
Berdasarkan temuan-temuan tersebut, mengindikasikan bahwa Padangroco diperkirakan sebagai salah satu pusat Kerajaan Melayu Dharmasraya.
Pemugaran pada kompleks candi dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala yang sekarang bernama BPCB Sumatera Barat. Pemugaran pada Kompleks Candi Padangroco dilakukan mulai tahun 1995-2005 oleh BPCB Sumatera Barat. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
