Konflik Yaman, Pemimpin Houthi Peringatkan Turki dan Pakistan Agar Tidak Bergabung dengan Arab Saudi
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| AL-HOUTHI - Pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi. (Sumber Foto: Pers Today) |
SANAA, UNGKIT.COM - Pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan Turki dan Pakistan agar tidak terlibat dalam konfrontasi yang semakin meningkat antara kelompok tersebut dengan Arab Saudi.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi oleh saluran TV al-Masirah yang dikelola Houthi, melansir Xinhua, Selasa (22/9/2026), al-Houthi menuduh Arab Saudi mencari dukungan militer dari Turki dan Pakistan seiring intensifikasi konflik baik di dalam Yaman maupun di perbatasan Saudi-Yaman.
Ia mendesak kedua negara untuk tidak terlibat dalam konflik tersebut demi mengejar kepentingan politik atau ekonomi dengan Riyadh.
Al-Houthi juga menuduh Arab Saudi berupaya membawa pejuang dari Suriah ke dalam konflik, tanpa memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Mengenai kemungkinan de-eskalasi, pemimpin Houthi mengatakan kelompoknya tidak menuntut kondisi yang mustahil, dan mengulangi seruannya untuk mengakhiri operasi militer Saudi dan apa yang digambarkan Houthi sebagai blokade.
Ia menyerukan kepada para pendukungnya untuk mempertahankan mobilisasi dan terus memperkuat kemampuan militer dan keamanan kelompok tersebut di tengah meningkatnya konfrontasi.
Peringatan ini muncul ketika konfrontasi Houthi-Arab Saudi semakin meluas melintasi perbatasan, dengan serangan udara Saudi di Yaman dibalas dengan serangan rudal dan drone Houthi jauh di dalam kerajaan.
Al-Houthi mengatakan pada hari Senin bahwa Arab Saudi telah melancarkan 760 serangan udara sejak eskalasi terbaru dimulai. Tidak ada tanggapan langsung dari Arab Saudi, Turki, atau Pakistan terhadap pernyataan al-Houthi.
Ketiga negara tersebut menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah pada 7 Agustus di kota Mekah, Arab Saudi, yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu negara penandatangan akan dianggap sebagai serangan terhadap semua negara.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan Sabtu lalu bahwa Turki akan menepati janjinya berdasarkan perjanjian tersebut dan dapat memberikan bantuan teknis kepada Arab Saudi. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
