Sejarah Jembatan Ampera, Ikon Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan
Smallest Font
Largest Font
UNGKIT.COM - Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat disingkat Ampera merupakan sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Jembatan ini terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.
Jembatan bersejarah, landmark Kota Palembang dan ikon kebanggaan Provinsi Sumatera Selatan ini, resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh Kementerian Kebudayaan pada tanggal 2 September 2026.
Sejarah Pembangunan Jembatan Ampera
Sebenarnya, ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang, yakni Seberang Ulu dan Seberang Ilir dengan jembatan sudah tercetus tahun 1906 sejak zaman Gemeente Palembang.
Ketika wali kota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali muncul dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya.
Sayangnya, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Setelah kemerdekaan, gagasan pembangunan jembatan ini kembali mencuat. Pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956, DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan waktu itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya.
Usulan ini sebetulnya tergolong nekat. Sebab, anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp30.000,00.
Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Barlian, dan Gubernur Sumatera Selatan, M. Husin.
Pendampingnya, Wali kota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Presiden Soekarno menyetujui usulan pembangunan tersebut.
Dikarenakan jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat, yaitu penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu.
Lalu, dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan Jembatan Ampera dipusatkan di wilayah hilir yang merupakan kawasan pusat kota, terutama kawasan 16 Ilir.
Sewaktu pembangunan Jembatan Ampera, banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang dibongkar, salah satunya pusat perbelanjaan terbesar Matahari atau Dezon, Kantor listrik (OGEM), dan Bank ESCOMPTO.
Bangunan peninggalan Belanda yang tidak dibongkar hanya menara air atau waterleding yang sekarang digunakan sebagai Kantor Wali Kota. Di bagian hulu, banyak perumahan penduduk yang juga ikut dibongkar.
Pembangunan jembatan yang sudah direncanakan sejak zaman kolonial ini dimulai pada bulan April 1962 setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno.
Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Pada tahun 1965, jembatan itu diresmikan, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
Setelah terjadi pergolakan politik tahun 1966, ketika sentimen anti-Soekarno menguat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera, yang merupakan akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat.
Meski tahun 2002 ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini, akan tetapi usulan itu tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat. Sampai kini, jembatan ini masih dinamakan Jembatan Ampera.
Struktur Jembatan Ampera
Jembatan Ampera, dari Seberang Ulu dan Seberang Ilir, memiliki panjang 1.117 meter, lebar 22 meter --bagian tengah 71,90 meter, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton.
Tinggi jembatan ini 11,5 meter dari atas permukaan air, tinggi menara 63 meter dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 meter.
Sebelumnya, semua bagian tengah jembatan (di antara kedua menara) ini bisa diangkat dengan peralatan mekanis agar kapal-kapal besar bisa lewat.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi.
Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Tapi, sejak tahun 1970 bagian tengahnya sudah tidak diangkat lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.
Karena dikuatirkan dapat membahayakan, pada tahun 1990 bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menara jembatan dibongkar untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat tersebut. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
