Hewan-hewan Endemik Pulau Sumatera yang Langka dan Ikonik
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Selain floranya, Pulau Sumatera dikenal kaya akan beragam hewan endemik. Tapi, seiring waktu keberadaan satwa-satwa itu kian semakin langka akibat perburuan dan kerusakan lingkungan yang menjadi habitatnya.
Tak hanya langka, hewan endemik Sumatera ini juga memiliki ciri khas dan bahkan ada yang tidak ditemukan di wilayah lain.
Melansir laman Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal KSDAE, WWF-Indonesia dan sumber lainnya, berikut hewan-hewan endemik khas Pulau Sumatera:
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Gajah Sumatera, hewan endemik Pulau Sumatera yang termasuk subspesies gajah Asia. Satwa ini hidup di sejumlah kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Way Kambas (Lampung Timur, Lampung), Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), dan Tangkahan (Langkat).
Dibandingkan gajah India, gajah Sumatera memiliki ukuran tubuh lebih kecil, namun tetap menjadi mamalia darat terbesar di Indonesia dengan berat hingga sekitar 6 ton dan tinggi bahu mencapai 3,5 meter. Populasinya terus menurun akibat perburuan dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, sehingga kini berstatus terancam punah.
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatraensis)
Badak Sumatera, salah satu hewan endemik Pulau Sumatera dan menjadi spesies badak paling kecil yang masih bertahan hidup di dunia. Satwa ini termasuk keluarga badak bersama badak Jawa, badak India, badak Putih, dan badak Hitam.
Berbeda dengan badak Jawa, Badak Sumatera memiliki dua cula, dengan cula depan berukuran sekitar 25-80 cm dan cula belakang lebih pendek. Tubuhnya ditutupi rambut sehingga dijuluki hairy rhinoceros atau badak berambut. Populasinya terus menyusut akibat perburuan dan kerusakan habitat, sehingga kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN.
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
Harimau Sumatera, hewan endemik lainnya yang ada di Pulau Sumatera dan satu-satunya anggota subspesies harimau Sunda yang masih bertahan hingga sekarang. Satwa ini memiliki ukuran tubuh paling kecil dibandingkan jenis harimau lainnya, dengan warna loreng yang lebih gelap dan rapat.
Harimau jantan dewasa dapat mencapai panjang tubuh sekitar 250 centimeter dengan berat hingga 140 kilogram. Sedangkan, betinanya memiliki panjang rata-rata sekitar 198 centimeter dan berat badan hingga 91 kilogram. Populasi Harimau Sumatera terus menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat, sehingga kini berstatus terancam punah.
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
Orangutan Tapanuli salah satu hewan endemik Pulau Sumatera yang paling langka. Spesies ini baru ditemukan oleh dunia sains pada 2017 dan hanya hidup di kawasan hutan Batang Toru, Sumatera Utara. Saat ini, orangutan Tapanuli berstatus Critically Endangered atau terancam punah menurut IUCN Red List.
Secara genetik, satwa ini lebih dekat dengan orangutan Kalimantan dibandingkan orangutan Sumatera. Kemiripannya terlihat dari ciri fisik, yaitu bulu yang lebih tebal dan keriting, bentuk tengkorak, tulang rahang yang lebih halus, hingga suara panggilan jarak jauh pejantan yang khas. Populasinya terancam akibat perburuan, perdagangan ilegal, deforestasi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, dan konflik dengan manusia.
Surili Sumatera (Presbytis melalophos)
Surili Sumatera atau Simpai, primata endemik Pulau Sumatera yang hidup di kawasan hutan nasional, termasuk Taman Nasional Batang Gadis.
Satwa ini dikenal memiliki cara komunikasi unik melalui suara melengking bernada tinggi untuk berinteraksi dalam kelompok maupun merespon ancaman. Aktivitas satwa ini banuak dilakukan di tajuk pohon dan jarang turun ke tanah.
Simpai memiliki ciri khas berupa jambul hitam menyerupai mahkota di kepala, tubuh ramping sepanjang sekitar 45-49 centimeter, berat 5-6 kilogram, serta ekor hingga 71 mentimeter. Populasinya terus menurun akibat gangguan manusia dan fragmentasi habitat sehingga kini berstatus punah.
Tarsius (Tarsius bancanus)
Spesies hewan endemik Pulau Sumatera yang langka ini tergolong ke dalam Western tarsier (Tarsiur bancanus) yang berhabitat di hutan hujan tropis Sumatera, terutama di hutan primer dan sekunder dataran rendah. Hewan ini memiliki subspesies endemik lainnya di Pulau Bangka, yaitu Tarsius bancanus saltator.
Tarsius dikenal sebagai hewan nokturnal bermata besar dengan leher yang dapat berputar hingga 180 derajat. Primata karnivora ini memangsa serangga dan hewan kecil, sementara itu di sisi lain populasi Tarsius semakin terancam punah akibat kerusakan habitat dan perdagangan satwa.
Kelinci Sumatera (Nesolagus Netscheri)
Kelinci Sumatera, hewan endemik Pulau Sumatera yang hidup di kawasan Pegunungan Bukit Barisan, terutama di wilayah Sumatera bagian utara. Satwa ini bersifat nokturnal, aktif pada malam hari dan beristirahat di siang hari di dalam liang tanah yang digali oleh hewan lain.
Kelinci Sumatera memiliki ciri fisik berupa telinga pendek dengan panjang tubuh sekitar 350-400 milimiter, terkadang di antaranya memiliki corak merah di bagian ekor. Spesies ini tergolong langka dan telah dilindungi sejak 1972 karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitatnya.
Beo Nias (Gracula religiosa robusta)
Beo Nias salah satu hewan endemik Pulau Sumatera yang dikenal karena suaranya keras, nyaring, dan sangat pandai menirukan berbagai bunyi, salah satunya suara manusia.
Burung ini memiliki tubuh lebih besar dibandingkan beo pada umumnya dengan panjang sekitar 40 centimeter, serta bulu berwarna hitam dengan corak kuning di sisi kepala.
Ciri khas Beo Nias ada pada sepasang gelambir di bagian belakang kepala yang membedakannya dari jenis beo lain. Karena kepandaiannya dalam menirukan suara, burung ini banyak diburu untuk diperdagangkan, sehingga sejak 1970 Beo Nias telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi.
Tapir Sumatera (Tapirus indicus)
Tapir Sumatera, jenis satwa herbivora yang memakan dedaunan muda di hutan atau tanaman-tanaman di tepi sungai. Satwa ini tergolong ke dalam satwa nocturnal, yakni aktif mencari makan dan beraktivitas pada malam hari.
Tapir memiliki fungsi ekologi sebagai penebar biji di hutan melalui kotorannya (feses). Di Indonesia, spesies ini dapat ditemui di pedalaman hutan Sumatera.
Tapir satwa yang masuk ke dalam kategori Terancam Punah (Endangered/EN) dalam Daftar Merah IUCN, sebuah lembaga konservasi internasional, sedang berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Tapir merupakan satwa dilindungi.
Mirisnya, tapir masih kerap menjadi satwa korban perburuan ilegal. Data menyebutkan pelaku perburuan ilegal sering mengira Tapir yang melintas di hutan adalah babi hutan.
Pemburu tersebut asal menembak satwa yang sebenarnya bukan target buruan. Hal ini menjadi ancaman cukup serius karena berdampak pada penurunan populasi Tapir di alam.
Ancaman serius lainnya yang mempengaruhi jumlah populasi satwa ini di alam adalah konversi hutan menjadi perkebunan. Bila ini terus terjadi, Tapir akan punah dan keseimbangan ekosistem akan terganggu. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
