BREAKING NEWS

Wilayah Kedatuan Sriwijaya Menurut Data Arkeologi Hingga Berita China

PRASASTI KEDUKAN BUKIT - Prasasti Kedukan Bukit di Museum Nasional Indonesia. (Sumber Foto: Wikipedia)


UNGKIT.COM - Menurut data arkeologi, observasi dan catatan luar negeri, Kedatuan atau Kerajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing. Dari Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 imperium ini disebutkan di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. 

Dapunta Hyang berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk "mengalap berkah". Ia memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan Palembang. 

Diketahui, Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu. Para ahli berpendapat prasasti ini mengadaptasi ortografi India untuk menulis prasasti ini. 

Pada abad ke-7 Masehi ini, orang Tionghoa mencatat terdapat dua kerajaan, yaitu Malayu (Melayu) dan Kedah yang menjadi bagian Kedatuan Sriwijaya.

Berdasarkan Prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 ditemukan di Pulau Bangka, kedatuan ini ketika itu telah menguasai bagian selatan Sumatera, Pulau Bangka hingga Belitung atau wilayah Kepulauan Bangka Belitung sekarang. 

Prasasti ini juga menyebutkan Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya. 

Peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah, yang kemungkinan besar akibat dari serangan Sriwijaya. Kemungkinan yang dimaksud dengan Bhumi Jawa adalah Tarumanegara. 

Semasanya, Kerajaan Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim, terutama di sekitar Selat Malaka, Laut Jawa bagian Barat dan kemungkinan juga Teluk Thailand.

Pada abad ke-8 Masehi, Langkasuka di Semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Pada masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Selain itu, dalam Prasasti Tanjore (1030) juga termuat daftar wilayah Sriwijaya. Kawasan Sriwijaya dalam Prasasti Tanjore, yakni Pannai, Malaiyur (Malayu), Mayirudingam, Ilangasokam (Langkasuka), Mapappalam, Mevilimbangam, Valaippanduru, Talaittakkolam, Madamalingam (Tambralingga), Ilamuridesam (Lamuri), Manakkavaram (Nikobar) dan Kadaram (Kedah).

Diperkirakan, dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, Kerajaan Sriwijaya telah memiliki kekuasaan hampir sebagian besar wilayah barat Nusantara. Semua wilayah-wilayah tersebut dipersatuan dalam kevasalannya, termasuk di wilayah-wilayah di pesisir selat Malaka. 

Menurut berita dari China, Kedatuan Sriwijaya waktu itu telah menguasai setidaknya sebanyak 14 wilayah kekuasaan di sekitar Sumatera, Semananjung Melayu maupun pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk dijadikan vasalnya. 

Wilayah-wilayah yang dimaksud dalam 14 kevasalan itu, yakni Pe”eng-feng, Teng-ya-nung, Ling-ya- ssu-chia, Chi-lan-tan, Fo-lo-an, Jih-lo-ting, ch-ien-mai-pa-ta, Tan-ma-ling, Chia-lo-hsi, Pan-lin-feng, Hsin-to, Chien-pei, Lan-wu-li dan Hsi-lan.

Hal yang sama juga didapatkan berdasarkan penjelasan I-Tsing ketika dirinya mengunjungi Sriwijaya. Dalam salah satu tulisannya, I-Tsing juga menggambarkan bahwa salah satu alasan mengapa Sriwijaya berhasil mengontrol perdagangan di masa itu adalah keberhasilan menguasai wilayah perairan di Selat Malaka, sebuah jalur perdagangan penting dan ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai wilayah. 

Di samping itu, hal ini juga ditunjang dengan keberhasilan Kerajaan Sriwijaya mengalahkan dan menguasai kerajaan di sekitarnya dan dijadikan vasal-vasalnya, baik itu yang berada di Pulau Sumatera, Semenanjung Melayu dan wilayah-wilayah di Asia Tenggara. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment