BREAKING NEWS

Asal-usul dan Perpindahan Penduduk Awal di Lampung

Ilustrasi: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Keberadaan situs-situs purbakala di Lampung tidak terlepas dari proses perpindahan hingga perkembangan penduduk yang bermukim di suatu wilayah. Permukiman penduduk awal ditandai pada zaman megalitikum dengan ditemukannya berbagai macam benda-benda kepurbakalaan yang berbentuk bebatuan.

Salah satu sumber menyebutkan, kebudayaan di Lampung di antaranya ada hubungannya dengan keberadaan Suku Tumi di Gunung Pesagi, Kabupaten Lampung Barat, salah satu dari 5 gunung bersejarah yang ada di Provinsi Lampung.

Menurut cerita rakyat, penduduk Lampung berasal dari daerah Sekala Brak yang merupakan perkampungan orang Lampung pertama. Penduduknya disebut Suku Tumi (Lampung: Jeghema Tumi), suku purba yang diyakini sebagai salah satu nenek moyang dari orang Lampung.

Orang Tumi kemungkinannya berasal dari India Selatan yang datang dan menetap ke Nusantara beberapa milenium sebelum masehi. Suku Tumi yang dipimpin seorang wanita bernama Ratu Sekarmong dahulu bermukim di wilayah sekitar lereng Gunung Pesagi dan Danau Ranau.

Nama "Tumi" berasal dari kata Tamil, yaitu suku bangsa yang mendiami India bagian selatan dan diyakini orang Tumi bagian dari orang Tamil, kelompok etnis dari bangsa Dravida, India, yang mendiami wilayah Lampung dahulu.

Mereka ini menganut kepercayaan dinamisme yang ada pengaruh juga dari Hindu Bairawa, yakni menyembah sebatang pohon yang dianggap sakti bernama pohon Lemasa atau Melasa Kepampang Sebukau. Cabang pohon itu gatal dan beracun. Tapi, racunnya dapat disembuhkan dengan getah dari pokok pohon tersebut.

Satu sumber riwayat menyebut, di sekitar abad ke-3 Masehi di Lampung terdapat kerajaan bernama Kerajaan Sekala Brak (Sekala Beghak). Pemimpinnya bernama Raja Buay Tumi. Raja itu pemimpin Suku Tumi dan membangun peradaban di Sekala Brak. Lokasi Kerajaan Sekala Brak itu terletak di lereng Gunung Pesagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau.

Kepaksian Sekala Brak membenarkan eksistensi Suku Tumi yang telah ada sebelum kedatangan La Laula ke Sekala Brak di sekitar awal abad ke-3 Masehi. Diceritakan, La Laula ini bukan penduduk asli. Dia bersama pengikutnya datang di Sekala Brak dari daratan Indochina, antara Vietnam dan Kamboja dengan menggunakan kapal kuno.

La Laula tiba di sebuah negeri yang dipenuhi pohon sekala, di mana di sana itu sebelum orang-orang dari Indochina tersebut datang sudah bermukim suatu entitas masyarakat yang dikenal sebagai orang Tumi.

Suku Tumi ini merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikutnya dari kalangan masyarakat lokal. Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan Suku Tumi. Menurut versi ini, La Lalula merupakan raja pertama di Kerajaan Sekala Brak.

Di puncak Gunung Pesagi, menurut Prof. Dr. Sujarwo, selain Suku Tumi dan La Laula beserta pengikutnya ketika itu juga terdapat dua suku lain yang bermukim di sana. Kedua suku tersebut memiliki sikap yang berbeda dengan Suku Tumi. Keduanya kelompok suku yang membuka diri terhadap masuknya ajaran Islam, yaitu Suku Kenyangan dan Nekhima.

Mereka ini dianggap pula sebagai leluhur atau kelompok pendahulu orang Lampung, meski ada perbedaan dalam penerimaan ajaran baru dengan Suku Tumi yang saat itu masih menutup diri dengan syiar Islam. 

Di masa kemudiannya dikisahkan Suku Tumi dapat dipengaruhi oleh empat orang pembawa agama Islam yang datang dari Pagaruyung, masing-masing bernama Inder Gajah bergelar Umpu Bejalan di Way, Pak Lang bergelar Umpu Pernong, Sikin bergelar Umpu Nyerupa dan Belunguh bergelar Umpu Belungguh. Kata “umpu” berasal dari kata “ampu”, sebutan bagi anak raja ataupun keturunan bangsawan dari Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau, Sumatera Barat.

Versi lain di dalam kitab Kuntara Raja Niti, kitab adat yang menjadi pedoman bagi adat istiadat ulun (orang) Lampung dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, nama-nama poyang tersebut masing-masing Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh serta lndarwati.

Menurut cerita rakyat di Belalau menyebutkan, keempat umpu itu pembawa agama Islam yang bersahabat dengan Putri Bulan (Indarwati). Diperkirakan, Si Bulan atau Putri Bulan bernama asli Indarwati, leluhur orang Tulangbawang.

Selanjutnya, di dalam tambo diceritakan Umpu Bejalan Di Way bernama asli Inder Gajah menurunkan orang Abung, Umpu Belunguh bernama aslinya diperkirakan sama dengan nama gelarnya, yakni Belunguh menurunkan orang Peminggir, Umpu Nyerupa bernama asli Sikin menurunkan orang Jelma Daya dan Umpu Pernong bernama asli Pak Lang menurunkan orang Pubian.

Sejumlah antropolog dan sejarawan Belanda, seperti Dr. Fn. Fune, Groenevelt, Rampanggilay, Cornelis van Vollenhoven, Hell-fich dan L.C Westenenk menyimpulkan, semasanya warga Sekala Brak yang mendiami sekitar Gunung Pesagi itu pernah melakukan perpindahan secara bertahap dari waktu ke waktu. Perpindahan dilakukan secara perorangan, keluarga hingga kelompok. Migrasi penduduk di sana terjadi dikarenakan beberapa peristiwa penting yang menyebabkannya.
 
Pertama, ketika itu Suku Tumi terusir dari kampung halaman akibat masuknya agama Islam. Kedua, karena adanya perselisihan internal di antara keluarga. Pihak yang tidak menerima keadaan, lalu memutuskan untuk berpindah ke daerah lain. Ketiga, adanya gempa bumi yang menyebabkan sebagian besar penduduk Sekala Brak mencari perlindungan ke daerah lain.

Keempat, adanya aturan adat setempat menetapkan yang paling berhak memperoleh hak warisan keluarga anak tertua. Karenanya, banyak anak-anak muda Sekala Brak memilih untuk pindah ke daerah lain. Mereka berharap akan mendapat kedudukan dan status sosial lebih baik.

Akibat gelombang migrasi ini terjadi penyebaran kebudayaan Suku Tumi. Sebagian besar dari mereka itu mengikuti aliran way (sungai) untuk bermukim dan mempertahankan hidup. Beberapa aliran-aliran sungai yang di masa kemudiannya menjadi tempat tujuan migrasi dari Suku Tumi, antara lain Way Komering, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung serta Way Tulangbawang beserta anak-anak sungainya hingga meliputi dataran Lampung, Palembang (Sungai Komering), bahkan sampai ke daerah pesisir Pantai Banten.

Terlepas dari cerita-cerita tersebut, Sekala Brak di Lampung Barat dianggap bagian dari simbol peradaban, kebudayaan serta eksistensi orang Lampung. Penyebutan Lampung sendiri menurut pendapat ini berasal dari kata “Anjak Lambung” yang artinya menunjukkan tempat tinggi, yakni lereng Gunung Pesagi, gunung tertinggi yang ada di wilayah Lampung. Keterangan itu merujuk sejarah orang Lampung yang berkaitan dengan nama Sekala Brak dilereng Gunung Pesagi.

Terdapat sejumlah teori etimologi Sekala Brak. Pertama, Sakala Bhra berarti titisan dewa serta terkait dengan Sekala Brak Hindu. Kedua, Segara Brak berarti genangan air yang luas, yaitu Danau Ranau yang letaknya tidak jauh dari Kerajaan Sekala Brak. Ketiga, Sekala Brak berarti tumbuhan sekala.

Kemungkinan tumbuhan ini Ketembang Sekala atau Amomum Blumeanum Valeton, tanaman sejenis jahe-jahean yang tumbuh dan banyak tumbuh di dataran tinggi Gunung Pesagi. Selain itu, ada pula menyebutkan Skala Brak atau Sekala Beghak dengan arti “tetesan yang mulia”.

Kajian sejumlah sejarawan Belanda, antara lain Groenevelt, L. C. Westernenk dan juga Hellfich umumnya mengarah persamaan persepsi jika Sekala Brak daerah asal orang Lampung. Pengelana dari China, I-Tsing, menyebut “To-Lang Po-hwang” yang diduga kata itu berasal dari bahasa Hokian.
 
Menurut pendapat ini, sebutan tersebut berarti “orang atas” atau “orang-orang yang berada di atas”. Yijing atau I-Ching, dieja I-Tsing, ketika itu mungkin menunjukkan keberadaan orang-orang yang tinggal dilereng Gunung Pesagi yang tidak lain suku bangsa Tumi.

William Marsden melalui bukunya yang terbit pertama kalinya tahun 1779 dengan judul The History of Sumatra (Sejarah Sumatera) beberapa kali diterbitkan ulang dan tahun 2008 terbit dalam versi bahasa Indonesianya, menulis apabila orang Lampung ditanya dari mana mereka berasal akan menjawab dari dataran tinggi, menunjuk ke arah gunung tinggi serta sebuah danau yang luas. Gunung dan juga danau dimaksud Gunung Pesagi dan Danau Ranau. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Posting Komentar