Aksara Lampung, Jejak Sejarah dan Budaya Sai Bumi Ruwa Jurai
Smallest Font
Largest Font
UNGKIT.COM - Aksara Lampung, had Lampung atau surat Lampung atau yang dikenal sebagai Ka-Ga-Nga (Kaganga) adalah sekumpulan aksara tradisional Indonesia yang berkembang di Pulau Sumatera bagian selatan. Aksara ini digunakan untuk menulis rumpun bahasa Lampung dan bahasa Melayu. Aksara Lampung dikatakan turunan dari aksara Kawi, memiliki kedekatan dengan rumpun aksara Pallawa, India Selatan dan juga Jawa Kuno.
Aksara Lampung (Had Lampung) diperkirakan mulai dikenal dan dikembangkan sejak abad ke-9 Masehi dan aktif digunakan dalam tulisan sehari-hari masyarakat Lampung semenjak pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20 Masehi, sebelum fungsinya berangsur-angsur mulai tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini sekarang masih diajarkan di Provinsi Lampung sebagai bagian dari muatan lokal, dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu sumber menyebutkan, sejarah adanya aksara Lampung berawal ketika Kerajaan Tulangbawang runtuh dan orang-orang Lampung banyak yang berhubungan dengan Sriwijaya. Sejak itulah aksara Pallawa masuk serta mempengaruhi perkembangan aksara Lampung. Penulisan aksara Pallawa, di antaranya ditemukan pada prasasti-prasasti (batu bertulis) peninggalan atau sezaman Kerajaan Sriwijaya di Lampung.
Mengenai asal-usulnya, salah satu sumber mengatakan aksara Lampung diciptakan oleh para Saibatin (pemimpin adat) sekitar awal abad ke-9 Masehi di Paksi Pak Sekala Brak, sebuah kerajaan kuno di sekitar Gunung Pesagi. Aksara Lampung dibuat terinspirasi dari aksara Pallawa.
Berdasarkan studi perbandingan bentuk aksara-aksara Nusantara yang pertama kali dijabarkan oleh Holle dan Kern, para ahli umumnya meyakini aksara Lampung salah satu turunan dari aksara Brahmi, India. Aksara Brahmi merupakan aksara India kuno tertua yang berkembang pada pertengahan milenium pertama sebelum masehi.
Aksara Brahmi, berjenis abugida, tumbuh di anak benua India dan menggunakan sistem diakritik untuk melambangkan perubahan bunyi vokal pada sistem konsonan. Aksara itu terus berkembang serta diturunkan sebagai rumpun Brahmi, yang terus digunakan hingga saat ini, terutama di Asia Selatan dan Tenggara.
Aksara Lampung, berupa aksara abugida yang terdiri dari tiga unsur, yaitu kĕlabay surat (19 aksara dasar), bĕnah surat (10 diakritik) dan tanda baca. Setiap konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren [a], [ə] dan [ɔ], yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu. Arah penulisan aksara Lampung dari kiri ke kanan. Tidak seperti turunan aksara Kawi di Jawa dan Bali, bentuk huruf di aksara Lampung lebih sederhana serta tidak memiliki bentuk konjungsi susun (pasangan).
Aksara Lampung memiliki 20 huruf induk, yakni Ka, Ga, Nga, Pa, Ba, Ma, Ta, Da, Na, Ca, Ja, Nya, Ya, A, La, Ra, Sa, Wa, Ha dan Gha. Di samping itu, ada pula diakritik atau yang disebut juga sebagai benah surat yang jumlahnya ada 12. Fungsinya sebagai tanda bunyi yang membedakan dengan aksara dari daerah lainnya. Penulisan aksara Lampung memiliki ciri khas setiap tulisan aksara yang pada dasarnya terdapat bentuk coretan patah atau lengkungan.
Ciri khas lainnya dari aksara Lampung tidak memiliki angka. Jadi, untuk menulis angka biasanya masyarakat menggunakan aksara Arab. Untuk tanda baca hanya ada dua, fungsinya sebagai penanda awal dan akhir suatu tulisan. Selain tanda baca matahari dan bulan, ada beberapa tanda lain yang dibuat dari pembakuan bahasa Lampung. Kegunaannya sama seperti dalam aksara Latin, yakni sebagai tanda seru, tanya, titik dan koma.
Secara umum, ragam tulisan dalam aksara Lampung berjenis suku kata mirip seperti huruf hidup di dalam bahasa Arab. Aksara Lampung menggunakan tanda fathah di baris atas, tanda kasrah di baris bawah, tetapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan.
Berdasarkan bentuknya, aksara Lampung dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu aksara Lampung lama dan aksara Lampung baru (sekarang). Kedua aksara ini mempunyai beberapa perbedaan. Perbedaan pertama terletak dari segi jumlahnya. Aksara Lampung lama terdiri atas 19 huruf, sedangkan aksara Lampung sekarang terdiri atas 20 huruf. Perbedaan kedua terletak pada tanda bunyinya, sedangkan perbedaan ketiga ada ditanda bacanya.
Menurut buku Kamus Umum Bahasa Lampung Indonesia yang di susun oleh Noeh, M., & Haris Fadilah (1979), had Lampung terdiri atas huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda serta gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Induk Huruf (Kelabai Surat) aksara Lampung terdiri dari 20 induk huruf yang melambangkan satu suku kata dengan vokal inheren /a/: Ka, Ga, Nga, Pa, Ba, Ma, Ta, Da, Na, Ca, Ja, Nya, Ya, A, La, Ra, Sa, Wa, Ha, Gha.
Anak Huruf (Anak Sukhat) aksara Lampung berjumlah 12 buah serta berfungsi untuk mengubah, menambah vokal atau mematikan bunyi vokal pada induk huruf. Berdasarkan letaknya, anak huruf dibagi menjadi tiga kelompok, yakni di atas induk huruf, di bawah induk huruf dan di samping induk huruf.
Anak huruf di atas induk huruf (6 anak huruf), masing-masing Ulan (i): Memberi bunyi vokal /i/, Ulan (e): Memberi bunyi vokal /e/ (seperti pada kata "lele"), Bicek (e): Memberi bunyi vokal /ǝ/ (seperti pada kata "lebah"), Rejunjung (r): Memberi bunyi mati /r/, Datasan (n): Memberi bunyi mati /n/ dan Tekelubang (ng): Memberi bunyi mati /ng/.
Anak huruf di bawah induk huruf (3 anak huruf), masing-masing Bitan (u): Memberi bunyi vokal /u/, Bitan (o): Memberi bunyi vokal /o/ dan Tekelungau (au): Memberi bunyi vokal rangkap /au/. Sedangkan, anak huruf di samping induk huruf (3 anak huruf), masing-masing Tecekeling (ai): Terletak di depan (kiri) induk huruf, memberi bunyi /ai/, Keleniah (ah): Terletak di belakang (kanan) induk huruf, memberi bunyi mati /ah/ dan Nengen (/): Terletak di belakang (kanan) induk huruf, berfungsi sebagai tanda mati (menghilangkan vokal /a/ di induk huruf).
Meskipun dikatakan turunan dari aksara Brahmi, sejarah evolusi aksara Lampung tidak dapat dirunut dengan pasti. Karena aksara Lampung sejauh ini hanya ditemukan pada materi yang umurnya tidak lebih dari 400 tahun. Surat Lampung lazim ditulis pada media yang rentan rusak di iklim tropis, dan tidak ada prasasti atau peninggalan tua lainnya yang disetujui sebagai purwarupa langsung surat Lampung atau aksara Lampung ini.
Sumber lainnya menyebutkan, aksara Lampung merupakan perkembangan dari aksara Devanāgarī (Deva Nagari), jenis aksara yang berasal dari India bagian utara. Aksara itu muncul dari aksara Brahmi dan menurunkan aksara-aksara yang dipakai di Nepal dan Bangladesh.
Aksara ini dipakai untuk menuliskan bahasa Sanskerta yang tumbuh di dalam abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Namun, bahasa Sanskerta tidak mutlak ditulis menggunakan aksara ini, tetapi juga dengan banyak aksara lainnya, antara lain aksara-aksara Nusantara. Setelah masuk dan mempengaruhi masyarakat, aksara ini mulai dipakai hampir di seluruh daerah Sumatera Selatan, termasuk Lampung.
Di Pulau Sumatera, kerabat paling dekat lainnya dari aksara Lampung, di antaranya rumpun surat Ulu, seperti aksara Rejang dan aksara Incung. Baik rumpun surat Batak maupun rumpun surat Ulu berkembang di wilayah pedalaman Sumatera yang relatif lambat menerima pengaruh luar.
Karena itu, ketika Sumatera menerima pengaruh Islam yang signifikan semenjak abad ke-14 Masehi, kedua wilayah tersebut mempertahankan penggunaan aksara ini selagi wilayah pesisir mengadopsi penggunaan Arab-Melayu. Aksara Lampung juga ada kemiripan dengan aksara di daerah hulu Sungai Komering tempat mayoritas penutur bahasa Komering bermukim.
Salah satu deskripsi serta tabel aksara Lampung paling awal oleh penulis asing dapat ditemukan dalam buku History of Sumatra yang ditulis William Marsden dan dicetak pada 1784. William Marsden (1754–1836), seorang orientalis, linguis, numismatis dan perintis dalam studi ilmiah mengenai Indonesia. Setelah itu, tidak banyak yang diketahui mengenai bahasa, sastra dan aksara Lampung di luar masyarakat Lampung sendiri hingga pertengahan abad ke-19 Masehi.
Di dunia penulisan, aksara (had) Lampung juga digunakan untuk menulis mantra, mĕmang, hukum adat dan surat-surat penting, seperti surat jual beli dan surat perjanjian. Di zaman penjajahan Hindia Belanda, aksara Lampung biasanya digunakan menulis surat-surat resmi, seperti surat keputusan pengangkatan para kepala kampung, surat keterangan kelahiran dan kematian serta surat resmi lainnya. Hal itu tidak terlepas dari tingginya angka melek huruf Suku Lampung saat itu.
Aksara Lampung secara tradisional ditulis di sejumlah media, di antaranya yang paling lumrah, berupa bambu, kulit kayu, tanduk binatang, rotan dan kertas. Naskah dengan media-media tersebut dapat ditemukan dalam ukuran serta tingkat kerajinan yang bervariasi.
Tulisan sehari-hari umum digurat pada permukaan bambu, rotan, atau tanduk dengan pisau kecil (lading lancip). Tergantung dari warna dasar media, guratan ini kemudian dilumuri untuk meningkatkan keterbacaan. Bila warna dasar medianya putih, maka guratan akan dilumuri kemiri bakar. Bilamana warna dasar medianya berwarna coklat/hitam, maka guratan akan dilumuri kapur sirih (hapul).
Kebanyakan naskah-naskah Lampung kuno yang ditemukan pada abad ke-18 dan 19 Masehi menggunakan kulit kayu sebagai media. Salah satunya naskah milik Jo. Trefusis yang diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian di Oxford tahun 1630. Naskah tersebut diyakini sebagai naskah beraksara Lampung kuno tertua yang pernah ditemukan. Cara pembuatan naskah dengan media ini serupa pula dengan pembuatan pustaha di Sumatera Utara.
Untuk membuat naskahnya, kulit dalam pohon gaharu (Aquilaria malaccensis) dipotong sesuai keinginan. Setelah itu dijemur beberapa saat. Kemudian diamplas dengan daun yang keras supaya halus. Terakhir, kedua permukaan depan dan belakang kulit dalamnya itu dilumuri dengan air beras.
Berbeda dengan naskah bambu, rotan dan tanduk, naskah kulit kayu ditulis dengan tinta menggunakan pena dari rusuk daun aren (Arenga pinnata) yang disebut kemasi. Tinta kemasi terbuat dari campuran buah deduruk (Melastoma malabathricum L.), arang dan getah kayu kuyung (Shorea eximia).
Kertas baru umum digunakan pada abad ke-19 Masehi. Kebanyakan kertas yang dipakai saat itu merupakan kertas Eropa yang ditorehkan menggunakan pena biasa. Walau begitu, bambu, tanduk, rotan serta kulit kayu terus digunakan sebagai media utama penulisan aksara Lampung hingga abad ke-20 Masehi.
Pada masa pra kemerdekaan Indonesia, telah banyak masyarakat Suku Lampung yang sudah fasih membaca dan menulis aksara Lampung. Banyak di antaranya yang menguasai variasi aksara Lampung. Mereka menggunakannya untuk berbagai hal, mulai dari sarana komunikasi, sarana pergaulan, hingga penulisan surat-surat penting. Penurutan dan penggunaan aksara Lampung utamanya digunakan sebagai sarana komunikasi sesama penutur bahasa Lampung.
Selain sebagai sarana komunikasi, aksara Lampung ketika itu juga digunakan sebagai sarana pergaulan muda-mudi Lampung. Pemuda dan pemudi Lampung tidak bisa bergaul secara bebas karena pertemuan mereka diatur secara adat. Adat yang mengatur pertemuan mereka disebut manjaw muli. Dalam aturan adat ini, ada sebuah acara di mana muda-mudi Lampung dapat bersua ria di tempat orang yang sedang mengadakan upacara adat. Acara ini dinamakan miyos damaw. Biasanya, acara tersebut diikuti secara beramai-ramai oleh muda-mudi Lampung.
Dalam acara ini, para bujang dan gadis dapat saling bercakap-cakap, sindir menyindir dan bersurat-suratan. Tidak jarang pula acara ini menjadi arena untuk saling menguji kepandaian bersastra, baik secara lisan, maupun tertulis. Acara ini menjadi sangat menarik ketika mereka saling adu kepandaian menulis dan membaca aksara Lampung. Bahkan, ada beberapa cara menulis aksara Lampung yang harus dikuasai para bujang dan gadis agar tidak menanggung malu dalam acara istimewa tersebut.
Pasca kemerdekaan Indonesia, aksara Lampung tidak lagi digunakan untuk baca tulis secara fungsional. Fungsi aksara Lampung secara de facto tergantikan oleh aksara Latin. Namun, kini pemerintah daerah kembali menggalakkan penuturan dan penulisan aksara Lampung. Aksara Lampung bisa dijumpai pada lambang di kabupaten/kota/provinsi, plang nama jalan, plat nomor rumah, dekorasi rumah, surat undangan pesta adat, hingga usaha ekonomi kreatif.
Pelajaran bahasa dan aksara Lampung diwajibkan sebagai Muatan Lokal (Mulok) di seluruh jenjang sekolah dasar (SD/MI) dan menengah pertama (SMP/MTs) di Provinsi Lampung. Kebijakan ini bertujuan melestarikan bahasa daerah, dengan didukung oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Lampung melalui peraturan gubernur/bupati/walikota hingga surat edaran.
Tak hanya itu, selama ini Museum Negeri Provinsi Lampung telah mengoleksi, menyimpan serta melestarikan naskah-naskah kuno beraksara Lampung. Naskah kuno yang ditemukan di wilayah Lampung itu banyak berisi doa-doa Islam, ajaran moral, hingga hukum adat yang menjadi pedoman hidup masyarakat.
Museum Negeri Provinsi Lampung jadi salah satu pusat penting dalam pelestarian budaya Lampung, salah satunya naskah yang banyak bertuliskan aksara Lampung. Di museum ini, koleksi naskah kuno beraksara Lampung dirawat dan ditampilkan kepada publik.
Melalui pameran, edukasi dan program literasi budaya, museum berperan memperkenalkan kembali aksara Lampung kepada generasi muda. Kehadiran museum menjadi jembatan antara warisan masa lalu dengan tantangan zaman modern. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
