BREAKING NEWS

Catatan I-Tsing Petunjuk Keberadaan Kerajaan di Pulau Sumatera, Termasuk Tulangbawang

PENZIARAH CHINA – I-Tsing atau I-Ching. (Ilustrasi: Google Gemini/UNGKIT.COM)


UNGKIT.COM - Selain adanya prasasti dan sejumlah peninggalan lainnya, catatan perjalanan I-Tsing, menjadi salah satu petunjuk akan keberadaan kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera. 

Kesaksian I-Tsing, telah pula mengilhami para sejarawan, antropolog, sosiolog, pemerhati sejarah, penulis hingga pemerintah daerah, mencari jejak-jejak keberadaan Kerajaan Melayu, Sriwijaya dan Tulangbawang di Lampung, yang diperkirakan ketiga kerajaan itu pusat pemerintahannya berada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) sekarang.  

Siapa I-Tsing?

Yijing atau I-Ching, dieja I-Tsing, lahir di Yanjing, China, tahun 635 dan meninggal di Chang'an, tanggal 16 Februari 713 dalam usia 79 tahun. Dia salah satu dari tiga penjelajah terkenal China. 

Kedua pendahulunya, Fa-Hsien (Fa-Hien) dan Hsuan-Tsang. Fa-Hsien, biarawan China yang pertama kali melakukan perjalanan ziarahnya ke India. Dia tinggal di sana selama sekitar 15 tahun semenjak 399 hingga 414. Sementara, Hsuan-Tsang tinggal di India selama 17 tahun sejak 629 hingga 645. 

I-Tsing masih berusia kira-kira sepuluh tahun ketika seniornya Yuan Chwang kembali ke China. Ketika itu, ia sudah bertekad untuk menjadi biksu di waktu mendatang. I-Tsing memasuki Sangha usia empat belas tahun. 

Di tahun 671, saat berusia tiga puluh dia mulai berkelana. Ia mengembara selama sekitar dua puluh lima tahun, sampai dengan tahun 695. Tercatat ada banyak negara sudah dijelajahinya. 

Setelah kembali ke negeri China tahun 695, dia berhasil menerjemahkan lebih dari 56 buku. Dari tahun 700 sampai 712 Masehi, sebanyak 400 judul buku dibawanya pulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa. 

Sejak usia masih remaja, I-Tsing memang sudah berangan-angan untuk berziarah ke India. Keinginannya terwujud ketika dia telah berusia 37 tahun. Saat I-Tsing berumur 37 tahun itu, ia berlayar dari negeri China tahun 671 dan mendarat di Fo-Shih. Dia sempat tinggal selama 6 bulan untuk belajar Sabdavidya (tata bahasa Sanskerta). 

Kemudian, ia pergi ke Mo-lo-yeu, yang disebutnya Shih-li-Fo-Shih dan tinggal di sana selama dua bulan. Awal tahun 672, melalui Ka-cha (Kedah), I-Tsing berangkat ke India dan tinggal di Nalanda selama sekitar 10 tahun.

Di tahun 689, dikisahkan I-Tsing pulang ke Kanton. Kepulangannya seperti tidak sengaja. Alkisah, ia naik ke kapal dengan maksud menitipkan surat ke China. Isi suratnya minta dikirimi kue-kue, kertas dan tinta untuk melanjutkan penerjemahan. Ketika itu, datang angin yang bagus untuknya berlayar. I-Tsing akhirnya terbawa pulang. 

“Layar-layar dikembangkan setinggi-tingginya. Dengan cara itulah aku terbawa walaupun tidak berniat pulang. Bahkan, kalaupun aku meminta kapal berhenti, tak akan dikabulkan,” tulis I-Tsing dalam catatannya.

Tahun yang sama, dia kembali lagi ke Sriwijaya. Kedatangannya ke sini untuk melanjutkan pekerjaannya. Di tahun 692, ia mengirimkan ke negeri China beberapa naskah salinan catatan perjalanannya. 

I-Tsing, dikabarkan kembali ke China dalam tahun 695. Setiba di negerinya, ia disambut ratu China. Ratu yang dimaksud, kemungkinan Ratu Wu (690–705). Sang Ratu, sempat memproklamasikan diri sebagai Dinasti Zhou di sela-sela kekuasaan Dinasti Tang. 

Di samping menceritakan prihal kerajaan-kerajaan itu, I-Tsing di dalam beritanya menyebutkan adanya Kerajaan Tola P’o-Hwang (Tulangbawang). Sayangnya, dia menggambarkan sedikit mengenai kehidupan masyarakat di Tulangbawang, Lampung ini. 

Pernyataan I-Tsing itu, diperkuat catatan China kuno lain yang menyebut, pertengahan abad ke-4 Masehi seorang penziarah agama Buddha bernama Fa-Hien (337–422) pernah melawat ke Sumatera. Saat Fa-Hien akan berlayar ke India dan Srilangka, dia terdampar lalu memutuskan singgah di sebuah tempat, tepatnya di pedalaman Chrise (sebutan Sumatera). 

Di persinggahannya, Fa-Hien (Fa-Hsien) menyebut-nyebut Yeh-po-ti, tempat yang terpaksa harus disinggahinya karena kapal yang ditumpanginya terserang badai. Dalam kesaksiannya, Fa-Hien mengatakan di sini masyarakat setempat penganut agama Hindu. 

Dalam catatannya, Fa-Hien hanya menuliskan Yeh-po-ti satu kali saja. Yeh-po-ti kemudian ditransliterasikan jadi Seputih, yang posisi geografisnya persis berada di wilayah Lampung sekarang. 

Dari sejumlah temuan di sekitar lokasi memang terdapat tanda-tanda ada peradaban di sana. Keterangan Fa-Hien tentang Yeh-po-ti didukung dengan adanya situs peninggalan di sekitar Way Seputih, Lampung.

Di dalam buku kenangannya, I-Tsing (I-Ching) juga menceritakan, sang peziarah Hui Ning memutuskan perjalanannya selama tiga tahun di Pulau Jawa (664/5–667/8). Lawatannya ke Jawa untuk menterjemahkan sebuah sutra. Kemungkinan besar, sutra dimaksud ini dari mazhab Hinayana, mengenai Nirwana yang agung. 

Proses penterjemahan dibantu seorang pakar Jawa bernama Jñânabhadra. Sedangkan, I-Tsing menghargai pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera. Hal ini terbukti dari fakta dia tinggal selama enam bulan di Sriwijaya. 

Kemudian, ia tinggal selama dua bulan di Melayu (Jambi) dalam perjalanannya ke India tahun 671. Setelahnya, selama sepuluh tahun dia berdiam di Sriwijaya antara tahun 685–695.

Selain itu, I-Tsing meringkaskan, agama Buddha dipeluk di negeri-negeri yang pernah dikunjunginya. Sebagian besar negeri tersebut menganut mazhab Hinayanalah, kecuali di Melayu ada beberapa penganut Mahayana. 

I-Ching, atau lebih dikenal dengan nama I-Tsing ini, memiliki prestasi yang sangat gemilang dalam dunia penulisan. Ia menerjemahkan sekitar 60 sutra (teks agama Buddha) ke dalam bahasa Tionghoa, termasuk Saravanabhava Vinaya Avadana (Kisah-kisah Kebajikan) tahun 710 dan Suvarnaprabha Scottamaraja-sutra (Sutra Raja yang Paling Dimuliakan) tahun 703. 

Buku I-Tsing dengan judul A Record of The Buddhist Religion as Practised In India And The Malay Archipelago telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang ilmuwan Jepang I. Takakusu di tahun 1896. 

Buku lainnya dengan judul Memoirs On The Eminent Monk Who Went In Searc Of The Law In The Western Countries sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Perancis oleh Chavannes. 

Dari sini, didapat gambaran jelas tentang ketulusan serta pengabdian dari para biksu. Jumlahnya lebih besar daripada yang dikira. Mereka gigih, bahkan gagah berani menghadapi berbagai macam bahaya selama pengembaraan. 

Karya I-Tsing telah pula memberikan informasi berharga mengenai Tulangbawang, Lampung. Apalagi, dia lama berdiam di Sriwijaya, sudah tentu keterangannya bisa dipercaya. 

Dirinya mendengar atau menyaksikan bagaimana keadaan Tulangbawang ini dengan mata kepalanya sendiri. Uraiannya, sumber berita dari tangan pertama. Karenanya, banyak ahli sejarah menyatakan pernyataan I-Tsing dianggap keterangan yang tidak meragukan. 

Tulisannya, bagian dari sejarah masa lalu berguna saat ini. Hanya saja, penulisan sebagian besar nama-nama tempat yang dilalui, disinggahi, maupun didiaminya kadang tidak sebagaimana aslinya. Sehingga perlu dicocokkan kembali dengan nama-nama masa kemudiannya sampai sekarang.

Atas karya-karyanya yang agung, I-Tsing diberi gelar Master of the Tripitaka (Tripitaka Master), gelar kehormatan bagi biksu Buddha yang ahli dalam menguasai tiga keranjang kanon Buddhis (Vinaya, Sutra, Abhidharma), atau yang memiliki kontribusi besar dalam menerjemahkan dan menyebarkan teks-teks suci. 

Gelar ini menunjukkan keahlian luar biasa dalam ajaran Buddha serta sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Buddhisme.

Di dalam sejarah peradaban China, nama I-Tsing (I-Ching) disejajarkan dengan Hsuan Tsang, Kumarajiva dan Paramartha, sebagai Empat Penerjemah Agung, yang mengalihbahasakan kitab-kitab suci Buddhism ke dalam bahasa China. 

Untuk menghormati jasanya, kewafatan I-Tsing dikebumikan dengan upacara keagamaan dan kenegaraan dengan megah. Secara anumerta, I-Ching dinobatkan sebagai Honglu Qing (Direktur Kebudayaan Departemen Luar Negeri). (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Posting Komentar