BREAKING NEWS

F. G. Steck Penulis Topografi dan Etnografi di Daerah Lampung

KAPTEN INFANTERI – Frans Gerardus Steck, atau lebih dikenal F.G. Steck, Kapten Infanteri KNIL. (Sumber Foto: Wikimedia Commons)


UNGKIT.COM - Frans Gerardus Steck, atau lebih dikenal dengan F. G. Steck, salah satu sumber asing yang juga berkontribusi terhadap sejarah di Lampung. 

Dia seorang Kapten Infanteri KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) pada abad ke-19 Masehi, yang terkenal karena kontribusinya dalam penulisan topografi dan etnografi di daerah Lampung.
 
KNIL, dimana F.G. Steck sebagai kapten infanteri, adalah tentara Hindia Belanda, kekuatan militer kolonial di wilayah yang kini menjadi Indonesia, dibentuk tahun 1830. 

KNIL, terdiri dari tentara pribumi, Indo-Belanda dan Afrika-Belanda. Ketika itu, KNIL bertanggung jawab memadamkan berbagai pemberontakan di Hindia Belanda. Pada Perang Dunia II, KNIL turut menghadapi invasi Jepang, yang menyebabkan tentara Hindia Belanda ini terpaksa bubar sementara. 

Setelah Jepang kalah, KNIL kembali untuk mengembalikan kekuasaan Belanda, namun pada tanggal 27 Juli 1950 dibubarkan. Sebagian besar anggotanya dilebur ke dalam TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan lainnya ada yang mengungsi ke Belanda karena menolak untuk bergabung dengan TNI. 

Dalam karier militernya di KNIL, F.G. Steck diketahui pernah bertugas di wilayah Sumatera, termasuk dalam upaya pengamanan wilayah kolonial dari perlawanan lokal di Lampung dan sekitarnya. 

Steck terlibat aktif dalam serangkaian serangan militer Belanda ke Bali. Namanya tercatat dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme di Bali (Ekspedisi Bali antara tahun 1846–1849), sebagai salah satu perwira yang memimpin pasukan dalam penaklukan benteng-benteng lokal. 

Karena jasa-jasanya dalam berbagai pertempuran, F.G. Steck dianugerahi penghargaan militer bergengsi Belanda, yaitu Militaire Willems Orde (MWO) kelas 4 tanggal 21 Februari 1847. Penghargaan tersebut diberikan atas keberaniannya dalam aksi militer di Bali tahun 1846.

Tidak banyak referensi mengenai biografi pribadi F.G. Steck yang didapat, namun peran utamanya dalam sejarah kolonial Belanda, selain karier militer juga terkait dengan tulisannya. 

Dia menulis sebuah karya berjudul Reis naar Java: Wenken (Perjalanan ke Jawa: Petunjuk), atau Reise nach Java, yang tampaknya merupakan catatan perjalanan, atau panduan yang berisi pengamatan dan wawasannya tentang Jawa serta kehidupan di Hindia Belanda pada masanya. 

Tidak hanya di Pulau Jawa, F.G. Steck yang bertanggung jawab atas pemetaan distrik-distrik di Sumatera bagian selatan, di antaranya Palembang dan Bengkulu ini, juga melakukan perjalanan dan menjelajahi tempat-tempat di Lampung. 

Sebagai perwira KNIL, ia memberikan perspektif militer dan kolonial terhadap kondisi di lapangan dan tulisannya dirujuk dalam studi sejarah mengenai transfer pengetahuan dan kritik di dalam lingkungan militer KNIL saat itu. 

Selain karier lapangan, Frans Gerardus Steck juga dikenal memiliki keterkaitan dengan administrasi kolonial di Hindia Belanda. Beberapa sumber sejarah menyebutkan keterlibatannya dalam dokumentasi, atau pemetaan wilayah yang baru ditaklukkan untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda.

Topographische en Geographische Beschrijving Der Lampongsche Distrikten karya F. G. Steck, sebuah artikel penting yang diterbitkan tahun 1862 di jurnal Belanda, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkun-de/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 

Publikasi itu menyediakan deskripsi topografi serta geografis yang terperinci mengenai Distrik Lampung. Artikel ini, merupakan sumber primer yang sering dirujuk para sejarawan untuk memahami kondisi wilayah Lampung abad ke-19 Masehi, termasuk aspek geografi dan topografi, konteks kolonial, sosial-ekonomi, hingga etnografi Lampung. 

Artikelnya itu, diterbitkan dalam beberapa bagian, termasuk Vervolg van de Topogra-phische en Geographische Beschrijving der Lampongsche Distrikten, yang berarti kelanjutan dalam volume yang sama dari jurnal tersebut. 

Catatan F.G. Steck, menjadi sumber penting dan salah satu rujukan historis mengenai masyarakat Lampung pada periode kolonial Belanda. Catatannya, secara umum berfokus pada dominasi ekonomi dan politik di Lampung, meskipun catatan spesifiknya juga lebih mengarah pada aspek sosial dan budaya. 

Ia menggambarkan terkait interaksi sosial dan budaya dengan pendatang, seperti etnis Banten, Bugis, Jawa dan Tionghoa, termasuk mencatat sejarah kuliner dan demografi awal wilayah ini semasa kolonial.

Laporannya, memberikan informasi penting yang sangat berharga mengenai kelompok-kelompok pendatang awal dari berbagai etnis di wilayah Lampung serta interaksi dagang mereka, khususnya lada hitam. 

Karyanya, memberikan perspektif dari sudut pandang kolonial tentang bagaimana masyarakat Lampung asli berinteraksi dengan non pribumi dan dunia luar, membentuk keberagaman budaya yang ada serta berkembang hingga saat ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Posting Komentar