Kerajaan atau Kesultanan di Jambi
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| PENYERANGAN KERATON - Lukisan penyerangan kapal Belanda di keraton Sultan Jambi, 8 September 1858. (Sumber Foto: Rijksmuseum Amsterdam via Wikipedia) |
UNGKIT.COM - Sejarah kerajaan atau kesultanan di Provinsi Jambi mencakup Kerajaan Melayu kuno bercorak Hindu-Buddha yang berpusat di aliran Sungai Batanghari sejak abad ke-7 Masehi, serta Kesultanan Jambi (bercorak Islam) yang didirikan oleh Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak.
Berpusat di daerah aliran Sungai Batanghari, Kerajaan Melayu Kuno sering dikaitkan atau berdampingan dengan pengaruh kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
Kompleks Candi Muaro Jambi menjadi bukti peninggalan purbakala terbesar dari masa Hindu-Buddha di kawasan ini.
Di masa pengaruh Islam, di Jambi berdiri Kesultanan Jambi. Pendiri kesultanan yang sebelumnya bernama kerajaan Melayu Jambi ini Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak tahun 1460.
Semasa pemerintahan Orang Kayo Hitam, kerajaan ini memperluas pengaruh dan kekuasaannya serta memindahkan pusat pemerintahan.
Kerajaan di Jambi itu resmi menjadi kesultanan tahun 1615 di bawah pimpinan Pangeran Kedah yang bergelar Sultan Abdul Kahar.
Di masa jayanya, wilayah Kesultanan Jambi menjadi salah satu pelabuhan perdagangan lada terkaya di Pulau Sumatera abad ke-17 Masehi.
Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1906 dengan sultan terakhirnya Sultan Thaha Saifuddin. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
