Van der Tuuk, Peletak Dasar Linguistika Modern Tradisi Lisan dan Tulis Bahasa Lampung
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| VAN DER TUUK - Herman Neubronner van der Tuuk (1824–1894), peletak dasar linguistika modern untuk berbagai bahasa di Nusantara, termasuk bahasa Lampung. (Foto: Dok/Ist) |
UNGKIT.COM - Herman Neubronner van der Tuuk (1824–1894), atau dikenal Van der Tuuk, seorang linguis Belanda terkemuka. Van der Tuuk dikenal sebagai peletak dasar linguistika modern untuk berbagai bahasa di Nusantara, termasuk bahasa Lampung.
Kegiatannya mempelajari bahasa dan naskah kuno Lampung terjadi selama masa tugasnya di Hindia Belanda. Melalui korespondensinya, ia menggambarkan kondisi sosial masyarakat Lampung pada pertengahan abad ke-19 Masehi, mencerminkan pemikirannya tentang budaya dan masyarakat pribumi Lampung saat itu.
Herman Neubronner van der Tuuk pertama kali tiba ke Lampung tanggal 25 Agustus 1868 melalui Pelabuhan Telukbetung. Dari Telukbetung, ia menempuh perjalanan ke pedalaman selama tiga bulan hingga akhirnya dia sampai di Desa Lehan (Bumiagung, Lampung Timur).
Di sana, ia mempelajari bahasa dan aksara Lampung. Aktivitasnya menelusuri pedalaman Lampung berlangsung hingga tahun 1869. Berdasarkan studi dan pengalamannya dengan masyarakat asli Lampung, Van der Tuuk menghasilkan materi komprehensif mengenai tradisi lisan dan tulis bahasa Lampung.
Herman Neubronner van der Tuuk mempelajari dan mendokumentasikan bahasa serta surat-surat (manuskrip) Lampung selama kurun waktu antara tahun 1868–1869.
Hasil korespondensi dan penelitannya mengenai aksara Kaganga, cerita rakyat serta linguistik bahasa Lampung diterbitkan dalam studi korespondensi, yang menyoroti sisi humanis serta deskripsi mendalamnya mengenai budaya setempat.
Surat-surat Van der Tuuk dari Lampung memuat penjelasan linguistik yang detail mengenai bahasa Lampung, termasuk aksara Kaganga, Bubandung dan tulisan Arab-Melayu. Salah satu karya terdokumentasinya berjudul Les manuscrits Lampongs: en possession de M. le Baron Sloet van de Beele (1868).
Siapa Van der Tuuk?
Van der Tuuk lahir pada tanggal 23 Februari 1824 dari ayah seorang pengacara Belanda dan ibu seorang peranakan Jerman di Melaka, di mana negara bagian itu di bawah kekuasaan Hindia Belanda.
Adapun Neubronner nama keluarga dari pihak ibu. Ketika Traktat London (1824) mulai berlaku pada 1825, keluarga van der Tuuk berpindah ke Surabaya.
Seusai menempuh pendidikan dasar, van der Tuuk muda berusia sekitar 12 tahun melanjutkan sekolah ke Belanda dan di usia 16 tahun (1840) ia lulus ujian penerimaan di Universitas Groningen untuk studi ilmu hukum.
Tapi, ternyata dia lebih berminat mempelajari linguistika sehingga tahun 1845 pindah ke Universitas Leiden untuk memperdalam bahasa Arab dan Persia di bawah bimbingan Th. W Juynboll, saat itu seorang ahli Kearaban yang terkenal. Di samping itu ia juga mendalami Sanskrit dan bahasa Melayu.
Dikenal sebagai orang yang sangat berbakat dalam mempelajari bahasa, ia banyak menyusun kamus, seperti kamus bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Batak Toba, bahasa Lampung dan bahasa Bali.
Selain itu, ia juga mewariskan dua hukum tentang peralihan konsonan dalam bahasa-bahasa Austronesia. Hukum pertamanya mengenai pergeseran antara bunyi /r/, /g/ dan /h/, sedangkan yang kedua mengenai pergeseran konsonan antara /r/, /d/ dan /l/.
Di masa-masa akhir hidupnya, Van der Tuuk hidup menyendiri di Bali. Ia menetap di Singaraja, Buleleng, Bali Utara, di sebuah rumah bambu sangat sederhana sejak 1870. Namun, ada juga yang mengatakan semenjak tahun 1850-an.
Malam hari tanggal 16 Agustus 1894 dini hari (17 Agustus 1894), Van der Tuuk mengembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Militer Surabaya setelah terserang disentri beberapa lama. Ia meninggal di usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Kristen Peneleh, Surabaya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
