Asal Lada Lampung, Perdagangan dan Puncak Kejayaannya
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| PERDAGANGAN LADA - Perdagangan lada tempo dulu. (Sumber Foto: Wikimedia Commons) |
UNGKIT.COM - Pembudidayaan lada telah dilakukan semenjak ribuan tahun lalu oleh masyarakat kuno. Di Indonsia sendiri, khususnya di Lampung, tanaman lada tidak tumbuh secara alami, akan tetapi tanaman ini diyakini berasal dari daerah Ghat Barat, India.
Versi pertama, tanaman lada dibawa para penyebar agama Hindu yang datang ke Indonesia di abad pertama masehi sampai abad permulaan masehi. Sumber lain menyebut, lada asalnya dari pesisir Malabar, India Selatan, dibawa oleh para pedagang Arab dan India yang bermigrasi ke wilayah Nusantara sejak sekitar tahun 100 Sebelum Masehi (SM).
Sumber lainnya yang lebih muda juga menyebutkan kalau lada, jenis tanaman rambat ini, dibawa oleh pelaut dan pedagang India ke Nusantara lewat Samudera Pasai dan Pidie sekitar abad ke-13 Masehi.
Tanaman itu lalu diperluas ke daerah pedalaman Sumatera (Minangkabau), Semenanjung Malaya, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan antara abad ke-15 hingga ke-17 Masehi. Di antara abad tersebut tanaman lada sudah ada, diperdagangkan di Lampung, terutama di daerah Tulangbawang, Sekampung dan Seputih.
Jauh sebelumnya, sekitar tahun 1000 Sebelum Masehi, perdagangan rempah-rempah jarak jauh, yang mencakup kayu manis dan mungkin lada, diperkirakan sudah dimulai. Perniagaan ini menghubungkan India, negara asal lada dengan Mesir.
Sebelum masa masehi, bangsa Arab bertindak sebagai perantara utama dalam perdagangan rempah, mengambilnya dari Asia Tenggara dan membawanya ke pelabuhan Laut Merah. Meskipun bukti arkeologis spesifik lada di Indonesia pada kurun waktu sebelum masehi sangat langka, di masa kemudiannya perdagangan di wilayah Jawa bagian barat dan Sumatera dikatakan sudah aktif, menjadikannya potensi jalur awal rempah.
Walau sebelum masehi lada sudah mulai dikenal dalam jaringan perdagangan internasional di Nusantara melalui perantara, namun belum menjadi komoditas budidaya massal yang didokumentasikan secara luas seperti pada abad-abad setelah masehi.
Pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, jalur perdagangan Indonesia, termasuk rempah-rempah didominasi Kerajaan Sriwijaya, yang menjadi kekuatan maritim dan perdagangan terkemuka di Asia Tenggara, menguasai jalur Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadi pusat penyebaran agama Buddha serta menjalin hubungan dagang erat, terutama dengan Tiongkok dan India.
Sriwijaya, mengendalikan jalur pelayaran strategis antara Timur dan Barat, menjadikannya pusat perdagangan internasional yang makmur. Pelabuhannya, disinggahi pedagang dari berbagai bangsa, memperdagangkan rempah-rempah, emas, gading, hasil hutan serta mengimpor porselen dan sutra. Orang Arab mencatat, Sriwijaya memiliki aneka komoditas, seperti kapur barus, kayu gaharu, rempah-rempah, termasuk lada, gading, emas dan timah, yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.
Kekayaan yang melimpah ini, telah memungkinkan Kerajaan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal-nya di Asia Tenggara. Dengan berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama dengan mendapatkan restu, persetujuan dan perlindungan dari Kaisar Tiongkok untuk dapat berdagang dengan Tiongkok, Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari serta menguasi urat nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.
Karena alasan itu, Sriwijaya harus terus menjaga dominasi perdagangannya dengan selalu mengawasi dan jika perlu memerangi pelabuhan pesaing di negara jirannya. Keperluan untuk menjaga monopoli perdagangan inilah yang mendorong Sriwijaya menggelar ekspedisi militer untuk menaklukkan bandar pelabuhan pesaing di kawasan sekitarnya, sekaligus menyerap mereka ke dalam mandala Sriwijaya.
Bandar Malayu di Jambi, Kota Kapur di Pulau Bangka, Tarumanagara, pelabuhan Sunda di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah serta bandar Kedah dan Chaiya di Semenanjung Melaya, adalah beberapa bandar pelabuhan yang ditaklukkan serta diserap ke dalam lingkup pengaruh Sriwijaya.
Di Lampung, bukti kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, di antaranya Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Kabupaten Lampung Selatan dan Prasasti Bungkuk yang ditemukan di Kabupaten Lampung Timur. Kedua prasasti ini berisi peringatan penaklukan daerah Lampung oleh Sriwijaya, memuat sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya.
Kedua prasasti yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-7 Masehi itu, isinya juga mirip dengan Prasasti Karang Berahi yang ditemukan di tepian Batang Merangin, Jambi dan Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Diperkirakan, pembuatannya berasal dari kurun waktu yang hampir sama.
Catatan sejarah Champa menyebutkan adanya serangkaian serbuan angkatan laut yang berasal dari Jawa terhadap beberapa pelabuhan di Champa dan Kamboja. Mungkin, angkatan laut penyerbu yang dimaksud armada Sriwijaya. Sebab, saat itu wangsa Sailendra di Jawa bagian dari mandala Sriwijaya. Hal ini sebagai upaya Sriwijaya untuk menjamin monopoli perdagangan laut di Asia Tenggara dengan menggempur bandar pelabuhan pesaingnya.
Wangsa Sailendra, yang diduga menyerbu bandar pelabuhan di Champa dan Kamboja itu, merupakan nama dinasti raja-raja berpengaruh di Nusantara, terutama di Jawa pada masa Kerajaan Mataram Kuno abad ke-8 Masehi, yang dikenal sebagai penganut Buddha Mahayana.
Selain menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah Arab. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, tanaman lada dikatakan telah mulai dibudidayakan, mengingat eratnya hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Chola Mandala di India, salah satu dinasti maritim kuat yang mencapai puncak kekuasaannya di bawah Raja Rajaraja I dan Rajendra Chola I.
Hubungan yang erat itu akhirnya runtuh setelah Kerajaan Chola di bawah pemerintahan Rajendra Chola I di abad ke-11 Masehi menyerang dan mengalahkan Sriwijaya. Datangnya tentara dari India disebutkan turut serta membawa tanaman lada ke Sumatera.
Secara komersil dan tercatat, lada asal Lampung bagian dari komuditas rempah-rempah Indonesia, banyak diperdagangkan dengan kerajaan di Pulau Jawa. Waktu itu, daerah ini sudah menjalinan hubungan dagang dengan Kerajaan Sunda dan Jawa. Beberapa barang komoditas yang diperdagangkan, selain lada, ada juga kapas, emas, madu, lilin, rotan, beras dan hasil bumi lainnya.
Hal ini sesuai dengan catatan Tomé Pires, seorang apoteker, administrator kolonial dan diplomat Portugis. Ia menyebut dalam catatannya, Kerajaan Sunda (regño de Çumda) menjalin hubungan dagang dengan Tulangbawang (Tulimbavam) dan Sekampung (Çaçanpom) di Lampung.
Hubungan dagang tersebut berlangsung terus hingga masa Kesultanan Banten. Beberapa barang dagangan dari Tulangbawang dan Sekampung, seperti lada masuk ke Sunda melalui Pelabuhan Cheguide (Cigede). Pelabuhan ini dapat dilokalisir di Situs Kramat, Tangerang, dekat muara Sungai Cisedane.
Lada asal Lampung mulai terkenal ke seluruh dunia setelah para pedagang Eropa berhasil mengusai Malaka tahun 1511. Kesultanan Banten mulai membeli dan memonopoli perdagangan lada dari Lampung secara intensif sejak abad ke-16 Masehi, khususnya setelah berdirinya Kesultanan Banten tahun 1520-an dan semakin menguat pada abad ke-17 Masehi.
Melalui Banten, lada asal Lampung masuk ke Malaka dan pasaran Eropa, Asia Timur serta negara lainnya di dunia. Saat itu, Lampung menjadi sumber utama lada bagi Banten untuk memenuhi permintaan pasar internasional. (*)
