BREAKING NEWS

Penemuan Jalur Rempah, Silang Budaya dan Interaksi Internasional

PORTUGIS MENDARAT - Ilustrasi tempat mendaratnya bangsa Portugis untuk pertama kali di Indonesia. (Sumber Foto: Getty Images)


UNGKIT.COM - Pada masa prasejarah atau praaksara di Indonesia, jalur rempah memiliki posisi penting dalam perkembangan kepercayaan dan kebudayaan di Nusantara. Kepercayaan seperti Hindu, Buddha dan Islam, besar kemungkinan masuk melalui aktivitas para pedagang India, Arab dan China di rute jalur rempah untuk masuk ke wilayah kepulauan Nusantara. Bahkan, sekitar tahun 1500 sampai 1600-an, agama Katolik dan Kristen juga masuk ke Tanah Air melalui para pedagang Eropa, seperti Spanyol, Portugis dan Belanda.

Dengan kata lain, jalur rempah yang dimulai dengan migrasi Austronesia sekitar 4500 tahun lalu, menciptakan jalur laut antar pulau untuk cengkeh (Maluku), pala (Banda), lada (Sumatera dan Jawa), kayu manis dan kemenyan, yang melibatkan pedagang lokal, India, Tiongkok dan Arab jauh sebelum Eropa datang ini, membentuk kebudayaan masyarakat di kepulauan Nusantara menjadi beragam atau kosmopolitan. Pelaut dan pedagang asing itu datang ke Indonesia serta melakukan pertukaran budaya antarbangsa. Silang budaya dan interaksi internasional ini menegaskan pengaruh jalur rempah bagi Indonesia dan dunia.

Perdagangan rempah dalam sejarah Indonesia bukanlah sekadar perdagangan komoditas belaka, melainkan juga proses perniagaan yang memungkinkan terjadinya pertukaran nilai dan budaya yang turut membentuk identitas masyarakat. Imajinasi perdagangan rempah dan terbentuknya negara ini pada dasarnya mengingatkan kembali bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan. 

Sejarah besar rempah yang bermula dari negeri ini telah terpatri di catatan dunia. Semua negara mengakui Hindia Timur, daerah kepulauan terbesar di dunia yang tak lain adalah Indonesia, sebagai wilayah penghasil aneka macam rempah dari dahulu kala hingga sekarang.

Penemuan jalur rempah oleh Eropa waktu itu dipicu tingginya harga rempah seperti pala, cengkeh dan lada serta jatuhnya Konstantinopel, yang mendorong mereka mencari rute langsung ke Asia, dengan Portugis menjadi yang pertama tiba di Nusantara (Maluku) pada awal abad ke-16 Masehi setelah menguasai Malaka (1511), diikuti Spanyol, lalu Belanda, membentuk jalur laut baru mengelilingi Afrika, mengubah peta perdagangan dunia dan memulai era kolonialisme. 

Euforia perdagangan rempah abad ke-16 Masehi kelanjutan dari rangkaian panjang sejarah rempah ribuan tahun lalu. Sebelumnya, para pedagang Arab telah memasarkan pala, bunga pala dan cengkeh, yang diambil dari Kepulauan Maluku. Setelah dikumpulkan di Pantai Malabar, India, rempah-rempah itu diangkut ke Teluk Persia dan di sepanjang Lembah Eufrat, Mesopotamia ke Babilonia. Catatan sejarah ini diperkuat dengan penemuan jambangan berisi cengkeh di gudang dapur sebuah rumah di Situs Terqa, Eufrat Tengah, Suriah, salah satu wilayah peradaban Mesopotamia. 

Saat ekskavasi dilakukan, arkeolog Italia Giorgio Buccelati begitu terkagum-kagum atas temuan sebuah wadah berisi cengkeh. Rupanya, ia menggali di rumah seorang saudagar yang berasal dari masa 1700 Sebelum Masehi. Rekan Buccelati, seorang ahli paleobotani Kathleen Galvin memastikan, benda tersebut cengkeh yang berasal dari Kepulauan Maluku, Indonesia. 

Awalnya, tidak banyak yang tahu dari mana asal rempah, termasuk lada. Orang-orang Eropa semula hanya membelinya di Venesia atau Konstantinopel. Sementara, tempat tumbuhnya buah-buah itu entah di mana, hanya disebutkan dari daerah Timur yang berada nun jauh di sana. Embusan aroma rempah terlampau membuat penasaran, menggairahkan pelaut-pelaut Eropa untuk terjun dalam perburuan rempah. 

Kapal-kapal dari Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda pun berduyun-duyun mencari pulau-pulau penghasil rempah di Nusantara. Mereka bersaing untuk berlabuh pertama kali di daerah tujuan. Setiap negara menciptakan jalur pelayaran sendiri-sendiri, baik Portugis, Spanyol, Inggris maupun Belanda.

Seorang pelaut Inggris Sir Hugh Willoughby mencoba peruntungan baru berlayar lewat sisi utara, sebuah rute baru di luar rute pelayaran umum sisi timur dan barat. Sebaliknya, bukan rute pendek yang ditemukan, Willoughby dan anak buahnya justru terjebak di lautan es membeku dan tewas tahun 1553 di Kutub Utara, seperti ditulis Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg: Or the True and Incredible Adventures of The Spice Trader Who Changed the Course of History (1999).

Untuk meraup keuntungan yang berlipat-lipat, tentu saja pedagang-pedagang barat tidak puas hanya mengandalkan pasokan rempah dari pedagang India, Arab, China dan Melayu yang didatangkan ke Pelabuhan Malaka. Mereka ingin berburu rempah ke tempat asalnya yang masih misterius. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara menjadi awal penguasaan perdagangan rempah. 

Era ini, diawali dengan perebutan pelabuhan terkaya di Timur, yaitu Malaka oleh Portugis. Malaka, pelabuhan transit strategis, titik pertemuan distribusi rempah-rempah dari Timur ke Barat, seperti halnya Singapura sekarang. Tome Pires (1468-1540) memberikan perumpamaan, siapa pun yang menguasai Malaka dapat ”mencekik mati” Venesia. Suatu perumpamaan yang menggambarkan bagaimana dominasi Venesia kala itu terhadap rempah-rempah sebagai sumber devisa bagi negerinya.

Penguasaan poros ekonomi bahari ini secara otomatis merampas rantai perdagangan para pedagang di kawasan Malaka, termasuk mereka yang berasal dari kawasan Nusantara. Distribusi rempah yang panjang mulai dari Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa, kemudian menuju Malaka berlanjut ke pasar rempah di Malabar, India, menyeberangi Samudra Hindia mengarah ke Persia, Laut Merah, Jeddah, Muskat, menyusuri gurun pasir Alexandria dan Levant, akhirnya dipotong di Malaka. Era monopoli perdagangan pun dimulai. (*)

Penulis: Akhmad Sadad
Sumber: Berbagai Literasi
Posting Komentar