Prasasti Palas Pasemah, Peninggalan Sriwijaya di Lampung Selatan
![]() |
| REPLIKA PRASASTI – Replika Prasasti Palas Pasemah di Museum Lampung. (Foto: UNGKIT.COM/Akhmad Sadad) |
UNGKIT.COM - Prasasti Palas Pasemah, sebuah prasasti pada batu peninggalan Kedatuan atau Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Palas Pasemah, di tepi Way (Sungai) Pisang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Prasasti ini berisi peringatan penaklukan daerah Lampung oleh Sriwijaya. Di dalam prasasti tersebut memuat satu catatan tentang bhûmi jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Prasasti itu ditulis dengan aksara Pallawa, dan bahasa Melayu Kuno sebanyak 13 baris.
Meskipun tidak berangka tahun pembuatannya, akan tetapi dari bentuk tulisan aksaranya diperkirakan prasasti ini berasal dari akhir abad ke-7 Masehi. Isinya, mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.
Batu bertulis ini, ditemukan oleh warga desa pada tanggal 5 April 1956 di Kali Pisang, anak Sungai (Way) Sekampung, Desa Palas Pasemah. Temuan itu, lalu dilaporkan ke Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kandepdikbud) Kasi Kebudayaan Kecamatan Palas. Kemudian, dari Kandepdikbud penemuan tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah (Pemda) Lampung Selatan.
Pada tahun 1979, Prof. Dr. Buchari, seorang ahli benda-benda bersejarah, dan juga sekaligus petugas dari pemerintah pusat, mendatangi lokasi penemuan prasasti. Setelah diteliti, tulisan kuno yang ada di batu itu merupakan prasasti peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Isi prasasti tersebut dibahas oleh Prof. Dr. Buchari dalam sebuah artikelnya An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung), dalam buku Kumpulan Makalah Pra Seminar Penelitian Sriwijaya.
Lokasi penemuan batu bertulis ini, persisnya berada di sebelah utara kawasan permukiman penduduk. Sedangkan, di sebelah selatan terdapat lahan perkebunan. Lahan situs, saat ini taman purbakala yang luasnya sekitar 15 x 15 meter. Di sebelah barat, dan utara, terdapat jalan setapak, sedangkan di sebelah timur kebun. Sebelah selatan dari situs aliran Way Pisang. Kondisi lahannya miring ke arah selatan Way Pisang.
Menurut informasi juru pelihara situs, ketika dilakukan pembangunan pagar situs banyak ditemukan cangkang kerang laut. Kondisi sungainya yang terlihat sekarang, berupa sungai kecil, lebarnya sekitar 4 meter. Meski begitu, tidak jauh dari sungai kecil tersebut, tepatnya di sebelah selatan, masih dijumpai adanya tanggul alam. Jarak antara tanggul alam yang berada di sisi utara, hingga sisi selatan sekitar 25 meter. Kemungkinan, sungai itu telah mengalami penyempitan.
Aliran sungai ini masuk ke Rawa Sragi, yang selanjutnya mengalir ke Way Sekampung. Objek yang terdapat pada lahan taman purbakala adalah prasasti. Prasasti, berada pada bangunan tanpa dinding yang terletak di bagian selatan lahan. Bahan prasasti, berupa batuan andesit. Bagian yang tampak berukuran tinggi 59 centimeter, dan lebar 76 centimeter. Bagian atas ketebalannya 9 icm, sedangkan bagian bawah 30 icm. Sebelum disemen tinggi prasasti 65 icm.
Isi prasasti tersebut mirip dengan prasasti kutukan lainnya, seperti Prasasti Karang Berahi (Jambi), Prasasti Kota Kapur (Bangka), Prasasti Bungkuk (Lampung Timur) dan prasasti lainnya. Perbedaannya, pada Prasasti Palas Pasemah tidak memuat angka tahun dalam pembuatannya.
Isi Prasasti Palas Pasemah:
Salam, hormat kepada semua dewa, yang maha kuat, yang melindungi Sriwijaya. Hormat juga kepada Tadrum Luah, dan semua dewa yang mengawasi sumpah kutukan ini.
Jika ada orang, atau rakyat di bawah kekuasaanku, yang tunduk pada kerajaan, memberontak, berkomplot dengan pemberontak, bicara dengan pemberontak, tahu pemberontak, tidak tunduk takzim dan setia padaku, dan pada mereka yang telah dinobatkan sebagai datu. Orang-orang tersebut akan terbunuh oleh sumpah kutukan ini. Kepada penguasa Sriwijaya, diperintahkan untuk menghancurkannya. Mereka akan di hukum bersama seluruh anggota marga dan keluarganya.
Orang yang berniat buruk, yang membuat orang menghilang, membuat orang sakit, membuat orang gila, mengucapkan jampi-jampi, meracuni orang dengan upas, dan tuba, dengan racun yang terbuat dari akar-akaran, dan tanaman merambat, menjalankan ilmu pengasih (supaya orang jatuh cinta), biarlah mereka dijatuhkan dari keberuntungan dan di benci masyarakat, karena berlaku buruk.
Tetapi, mereka yang patuh, dan setia kepadaku, dan mereka kunobatkan sebagak datuk akan memperoleh segala keberuntungan dalam usahanya, termasuk marga, dan keluarga mereka. Sukses itu memberi sejahtera, sehat, aman yang berlimpah kepada negara. (*)
