Kerajaan Salakanagara, Antara Mitos, Cerita dan Kebenaran
Font Terkecil
Font Terbesar
UNGKIT.COM - Salakanagara dianggap sejumlah kalangan kerajaan mitologi yang dipengaruhi budaya India di Jawa bagian barat yang konon berdiri dari abad ke-2 dan hingga ke-3 Masehi. Letak Salakanagara diperkirakan merujuk pada lokasi bernama Argyre dalam Geographia karya Claudius Ptolemaeus.
Claudius Ptolemaeus pernah menyebut suatu tempat bernama Argyre dalam bukunya, Geographia, yang ditulis kira-kira tahun 150 Masehi. Argyre, menurut ilmuwan Yunani itu, berada di dunia timur yang sangat jauh, tepatnya di bagian barat sebuah pulau bernama Iabodiou. Penyebutan pulau ini kemudian dikait-kaitkan dengan istilah Yawadwipa alias Jawa.
Dalam bahasa Yunani, argyre berarti “perak”. Pada sekitar periode ketika Ptolemaeus merilis Geographia, berdirilah kerajaan bernama Salakanagara di bagian barat Jawa (Edi Suhardi Ekajati, Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran, 2005:55). Salaka, dalam bahasa Sunda, artinya “perak”.
Pendirian dan Raja-raja Kerajaan Salakanagara
Berdasarkan Naskah Wangsakerta - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Kerajaan Salakanagara berawal dari seorang pedagang India. Pedagang yang bernama Dewawarman tersebut bermukim di Teluk Lada, Pandeglang. Dewawarman menikahi putri dari Aki Tirem, seorang anak kepala daerah di Teluk Lada, Pandeglang.
Pada tahun 130 Masehi, Dewawarman mendirikan Kerajaan Salakanagara yang beribukota di Rajatapura. Raja Dewawarman yang bergelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara kemudian melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah. Wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara meliputi Jawa bagian barat, termasuk pulau yang berada di sebelah barat Pulau Jawa dan laut yang membentang hingga Pulau Sumatera.
Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun, antara tahun 130-168 Masehi. Penerus tahta selanjutnya adalah putranya bernama Dewawarman II dan bergelar Sang Prabhu Digwijayakasa Deawarman. Silsilah Kerajaan Salakanagara Selama 232 tahun berkuasa, Kerajaan Salakanagara diyakini mempunyai 11 raja.
Adapun nama-nama raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Salakanagara, yakni Dewawarman I atau Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara (130-168 M), Dewawarman II atau Prabu Digwijayaksa Dewawarmanputra (168-195 M), Dewawarman III atau Prabu Singasagara Bimayasawirya (195-238 M).
Kemudian, Dewawarman IV (238-252 M), Dewawarman V (252-276 M) Mahisa Suramardini Warmandewi (276-289 M), Dewawarman VI (289-308 M), Dewawarman VII (308-340 M), Sphatikarnawa Warmandewi (340-348 M), Dewawarman VIII (348-362 M) dan Dewawarman IIX (362 M).
Setelah Dewawarman VIII tidak memerintah, Kerajaan Salakanagara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Tarumanegara. Pendiri Kerajaan Tarumanegara, Raja Jayasinghawarman, adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Garis keturunan penguasa Kerajaan Salakanagara dipercaya melahirkan raja-raja Sriwijaya, Pajajaran dan Majapahit.
Dugaan Pusat Kerajaan
Lokasi yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Salakanagara juga masih belum pasti. Sedikitnya ada tiga versi terkait perkiraan di mana pemerintahan Salakanagara dijalankan, yakni di Pandeglang (Banten), Condet (Jakarta) atau di lereng Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat.
Versi pertama, ibukota Salakanagara berada di Teluk Lada, Pandeglang, Banten. Versi yang diambil dari naskah Wangsakerta ini menyebut pusat Kerajaan Salakanagara bernama Rajatapura yang diyakini merupakan kota paling tua di Pulau Jawa (Abdur Rahman, dkk., Carita Parahiyangan Karya Pangeran Wangsakerta, 1991:57).
Rajatapura menjadi pusat pemerintahan Raja Dewawarman I (130-168 M) hingga era Raja Dewawarman VIII (348-362 M). Di era raja selanjutnya, Dewawarman IX, Salakanagara tamat setelah dikuasai oleh Tarumanegara. Menariknya, Salakanagara pernah dua kali dipimpin oleh ratu, yakni Mahisa Suramardini Warmandewi (276-289 M) dan Sphatikarnawa Warmandewi (340-348 M).
Menjadi keraguan atas kebenaran versi pertama ini, Pandeglang tidak memiliki pelabuhan besar yang menjadi bandar dagang, melainkan hanya pelabuhan nelayan biasa. Sedangkan salah satu simbol kejayaan Salakanagara adalah dari sektor ekonomi dengan bukti, misalnya, kerajaan ini telah menjalin relasi dagang dengan Dinasti Han di China.
Dari situlah kemudian muncul versi kedua yang meyakini bahwa ibukota Salakanagara bukan berada di Pandeglang, melainkan di suatu tempat bernama Ciondet (Condet) yang kini terletak di wilayah Jakarta Timur (Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3, 2005:71).
Ciondet alias Condet berada tidak jauh dari bandar niaga besar bernama Sunda Kelapa, hanya sekira 30 kilometer ke arah utara. Pelabuhan ini pada masanya dikenal sebagai pusat perdagangan paling ramai di Nusantara dan salah satu yang terpenting di Asia karena merupakan segitiga emas bersama Malaka dan Maluku.
Di kawasan ini juga mengalir Sungai Tiram. Inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar untuk meyakinkan Salakanagara bukan berada di Banten, melainkan di Jakarta. “Tiram” dipercaya berasal dari nama Aki Tirem yang tidak lain adalah mertua Dewawarman I, pendiri Kerajaan Salakanagara (Abdurrahman Misno & Bambang Prawiro, Reception Through Selection-Modification, 2016:327).
Adapun menurut versi ketiga, Salakanagara dibangun di lereng Gunung Salak, Bogor. Disebutkan, di suatu bagian di kaki Gunung Salak sering terlihat keperak-perakan ketika diterpa sinar matahari (Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3, 2005:71). Dari situlah lalu dikait-kaitkan dengan arti Salakanagara, yakni “Negara Perak”. Ditambah lagi, penyebutan “Salaka” dengan “Salak” hampir mirip.
Berselimut Misteri
Riwayat Kerajaan Salakanagara memang berselimut misteri. Tak hanya soal mitos Argyre, hal-hal lain terkait kerajaan yang didirikan pada 130 Masehi –tepat 20 tahun sebelum Ptolemaeus menerbitkan Geographia– ini masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti dan pakar sejarah.
Perdebatan yang paling mendasar keyakinan Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Nusantara (Halwany Michrob, dkk., Catatan Masa Lalu Banten, 1993:33). Sementara yang lebih umum diketahui tentang kerajaan paling awal di kepulauan ini adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur.
Jika dilihat dari waktu berdirinya, Salakanagara yang sudah eksis sejak abad ke-2 Masehi jelas lebih tua ketimbang Kutai yang baru muncul pada abad ke-4 Masehi. Namun, yang melemahkan klaim Salakanagara adalah bukti fisik terkait asal-muasal kerajaan ini sangat minim. Berbeda dengan riwayat Kutai yang dilacak melalui penemuan sejumlah prasasti.
Sumber utama sejarah Salakanagara adalah manuskrip Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara, yang disusun pada abad ke-17 Masehi oleh sebuah dewan yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon, serta beberapa catatan dari Tiongkok.
Karena keberadaan kerajaan tersebut tidak dapat diverifikasi dari prasasti, peninggalan arkeologis, karya sastra, atau catatan sejarah asing pada masa itu, sejarawan modern menganggap manuskrip tersebut tidak dapat diandalkan dan akibatnya Salakanagara dianggap sebagai mitos.
Modal untuk mempertahankan argumen bahwa Salakanagara kerajaan pertama di Nusantara hanya berupa catatan perjalanan dari China. Kerajaan Salakanagara memang telah menjalin hubungan dagang dengan Dinasti Han. Bahkan, kerajaan Sunda ini pernah mengirimkan utusan ke China pada abad ke-3 Masehi. (*)
Sumber: Berbagai literasi
