BREAKING NEWS

Louis-Charles Damais, Sejarawan yang Berkontribusi Terhadap Jejak Sejarah di Lampung

SEJARAWAN - Louis-Charles Damais, seorang ilmuwan, sejarawan dan arkeolog yang memiliki spesialisi mengenai Indonesia, termasuk di Lampung. (Sumber Foto: Istimewa/UNGKIT.COM)


UNGKIT.COM - Prof. Dr. Louis-Charles Damais atau dikenal Louis-Charles Damais (1911—1966) merupakan seorang epigrafis yang salah satunya pernah meneliti dan menterjemahkan Prasasti Hujung Langit di Situs Hara Kuning.

Situs Hujung Langit (Situs Hara Kuning) terletak di Dusun Hara Kuning Jaya, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Berdasarkan pengamatannya bersama Nicolaas Johannes Krom dan Prof. Dr. Buchari diketahui, prasasti ini berhuruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Berdasarkan paleografi atau perbandingan hurufnya diperkirakan prasasti itu berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi. 

Siapa Louis-Charles Damais?

Louis-Charles Damais lebih dikenal sebagai seorang ilmuwan, sejarawan dan arkeolog yang memiliki spesialisi mengenai Indonesia. Ia lahir tahun 1911 di Paris, Prancis.

Louis-Charles Damais seorang poliglot, menguasai banyak bahasa. Ia gemar mempelajari penanggalan-penanggalan kuno. Ia seorang epigrafis yang banyak membaca inskripsi-inskripsi kuno di Indonesia. Sumbangannya terhadap arkeologi klasik Nusantara banyak, termasuk bagi Lampung.

Di samping keahliannya di bidang ilmu prasasti, filologi, dan sejarah, ia menguasai belasan bahasa asing, menerjemahkan sejumlah karya sastra Indonesia, dan menyukai gamelan serta wayang sampai menjadi serba tahu tentang kedua seni tersebut.

Bahkan, Louis-Charles Damais mahir menarikan tari Jawa klasik yang dipelajarinya di Keraton Yogyakarta dan sering memberikan ceramah-demonstrasi di seluruh dunia.

Riwayat intelektual Damais dan keahliannya yang langka mungkin tak akan sampai ke publik dan hanya diketahui lingkaran kecil arkeolog. Tak banyak riwayat hidupnya diketahui khalayak. Biografinya sangat minim.

Sumbangan Louis-Charles Damais terhadap sejarah Indonesia besar. Ia mampu membaca banyak prasasti tua berumur ratusan tahun dari masa Mataram Kuno, dari era Syailendra, Mpu Sindok, sampai Majapahit. Ia berjasa turut menyingkap masa lalu Nusantara.

Datang, Berkeluarga dan Meninggal di Indonesia

Kedatangannya ke Indonesia tercatat tahun 1937. Ia pergi ke Jawa untuk mempelajari monumen-monumen di sana serta sejarah Jawa. 

Berdasarkan penelitian Louis Charles Damais di makam Islam di Trowulan, Gus Dur mendapatkan bahwa dia keturunan dari Tan Kim Han, diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini.

Masa-masa perang dilaluinya di sana. Sehabis perang, École française d'Extrême-Orient (EFEO) menariknya ke Hanoi. Tapi, tahun 1952 ia berhasil membujuk EFEO untuk mengirimnya ke Djakarta sebagai wakil institusi tersebut. 

Louis-Charles Damais tinggal di Jakarta selama 28 tahun, menikah dengan seorang putri Surakarta, Soejatoen Arief Poespokoesoemo, dan dikaruniai tiga anak. 

Dia ikut mengumpulkan dokumentasi tentang seni dan antropologi Indonesia bersama Rolf de Maré dan Margaret Mead, lalu menjadi peneliti di Cornell University. 

Louis-Charles Damais meninggal di Jakarta tahun 1966 di usia muda, 55 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Blok P, yang kemudian tergusur oleh kantor Wali kota Jakarta Selatan sehingga dipindahkan ke kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment