Nicolaas Johannes Krom, Perintis Arkeologi di Indonesia
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Nicolaas Johannes Krom (5 September 1883—8 Maret 1945), seorang orientalis, epigrafis, arkeolog, peneliti sejarah awal dan budaya tradisional Indonesia asal Belanda.
Krom dikenal sebagai salah seorang tokoh kelompok "mazhab Belanda" atas kajian historiografi filologis Indonesia. Salah satu tulisannya yang pernah lama menjadi acuan mengenai sejarah kuno Indonesia, yakni Hindoe-Javaansche Geschiedenis (1926).
Selama kariernya, salah satu perintis arkeologi di Indonesia ini banyak meneliti, mengamati, menterjemahkan hingga mengemukakan teorinya tentang prasejarah dan sejarah di Nusantara, termasuk pernah melakukan pengamatan terhadap Prasasti Hujung Langit (Situs Hara Kuning).
Situs Hujung Langit (Situs Hara Kuning) terletak di Dusun Hara Kuning Jaya, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.
Siapa Nicolaas Johannes Krom?
Nicolaas Johannes Krom lahir di Hertogenbosch, Belanda, 5 September 1883. Krom --demikian panggilannya-- merupakan putra dari seorang pejabat arsiparis Belanda, Cornelius Catharinus Nicolaas Krom, dan Jeanne Marie Uranie Herderschee.
Krom memulai karier di Hindia Belanda dari tahun 1910 sebagai Ketua Commisie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera (Komisi di Hindia Belanda untuk Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura) menggantikan J.L. A Brandes yang saat itu tutup usia. Di komisi itu, dia hanya menjabat selama 2 tahun.
Nicolaas Johannes Krom orang yang pertama kali mengusulkan keberadaan sebuah badan khsusus di bawah pemerintah yang menangani persoalan arkeologi atau Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) tahun 1913.
Beberapa karya ilmiah Krom, di antaranya Hindoe-Javaansche Geschiedenis (Sejarah Hindu-Jawa) dan Levensgeschiedenis van den Buddha op Barabudur (Sejarah Hidup Sang Buddha di Borobudur).
Kemudian, Heiligdom van het Boeddhisme op Java (Kuil Buddha di Jawa), De Ondergang of Criwijaya (The Down of Sriwijaya), serta Het Karmawhibangga op Barabudur (The Karmawhibangga in Borobudur).
Karya-karyanya itu sangat berpengaruh pada historiografi sejarah Hindu-Buddha di Indonesia. Bahkan, hingga kini tulisan Krom sendiri masih menjadi acuan para penelti maupun sejarawan Indonesia untuk mempelajari serta menemukan fakta-fakta baru terkait sejarah Hindu-Buddha di Nusantara.
Selama tinggal di Hindia Belanda, Nicolaas Johannes Krom dikenal sebagai seorang pria yang pendiam. Kehidupan sosial komunitas kolonial di Batavia (Jakarta) ternyata tidak bermanfaat baginya. Tapi, ia menemukan kepuasan dalam pekerjaannya. Krom meninggal di Leiden, Belanda, tanggal 8 Maret 1945. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
