Kerajaan Kalingga: Asal Nama, Pendiri, Raja-raja Hingga Keruntuhannya
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Kerajaan Kalingga atau sering disebut sebagai Kerajaan Keling atau Holing merupakan kerajaan tua bercorak Hindu-Buddha yang berdiri di pesisir utara Jawa Tengah antara abad ke-6 hingga abad ke-7 Masehi.
Bukti arkeologis dan catatan sejarah tentang kerajaan ini tidak begitu terperinci dan lokasi persis dari ibu kota kerajaan tidak diketahui dengan pasti.
Akan tetapi, para ahli sejarah memperkirakan letak pusat pemerintahan kerajaan ini berada di sekitar Pekalongan, Jepara, atau kawasan Pegunungan Dieng.
Asal Nama dan Pendiri Kerajaan
Dari namanya, Kalingga bukan berasal dari Nusantara. Kalingga berasal dari sebuah kerajaan di India bagian selatan, meskipun di Indonesia letaknya berada di pesisir utara Jawa Tengah.
Salah satu teori asal-usul nama dan berdirinya Kerajaan Kalingga menyebutkan bahwa nama "Kalingga" berasal dari wilayah Kalinga yang terletak di India Timur atau Selatan (sekarang Odisha).
Konon, sekelompok masyarakat atau bangsawan dari wilayah tersebut melarikan diri ke Nusantara setelah kerajaan mereka dihancurkan oleh serangan Maharaja Asoka dari Kekaisaran Maurya dalam Perang Kalinga.
Di samping teori itu, terdapat perspektif sejarah lain yang didasarkan pada bukti lokal dan catatan Tiongkok. Berdasarkan bukti sejarah lokal, seperti Prasasti Sojomerto, tokoh yang dianggap sebagai pendiri atau penguasa awal Kerajaan Kalingga adalah Dapunta Syailendra.
Ia cikal bakal dari Dinasti Syailendra yang nantinya menjadi dinasti besar penguasa Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di abad ke-8 Masehi. Hal ini menunjukkan adanya akar lokal atau regional yang kuat dalam pembentukan kerajaan tersebut.
Analisis beberapa sejarawan atas sumber seperti Carita Parahyangan atau Prasasti Sojomerto, tokoh-tokoh awal Kalingga bagian dari cikal bakal Wangsa Syailendra lokal, bukan murni pelarian politik yang tercatat dalam kronik resmi India.
Berdasarkan perspektif catatan kronik Tiongkok, sebagian sejarawan berargumen bahwa penamaan "Kalingga" atau "Holing" muncul akibat salah paham para pencatat Dinasti Tang.
Pada masa itu, orang-orang Tiongkok kerap menggunakan istilah "Kling" atau "Kalinga" untuk menyebut orang-orang yang berasal dari dataran India.
Ketika utusan dari Jawa datang ke Tiongkok dengan pakaian dan perawakan yang mirip, mereka dikira sebagai imigran atau bagian dari kebudayaan India, sehingga wilayah asal mereka dicatat sebagai Holing/Kalingga. Baru setelah orang Tiongkok berlayar langsung ke Nusantara, mereka memperjelas identitas wilayah tersebut sebagai Jawa (Japo).
Raja-raja Kerajaan Kalingga
Setelah didirikan Dapunta Syailendra, takhta kerajaan diserahkan kepada Prabu Wasumurti, yang kemudian dikenal sebagai raja pertama Kalingga.
Prabu Wasumurti memimpin Kerajaan Kalingga di tahun 594 sampai 605, sebelum digantikan Prabu Wasugeni hingga tahun 632.
Setelah Prabu Wasugeni, berturut-turut kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Wasudewa (632-652), Prabu Kirathasingha (632-648), Prabu Wasukawi (652), Prabu Kartikeyasingha (648-674), dan Ratu Shima (674-695).
Shima merupakan permaisuri Prabu Kartikeyasingha. Ayahanda Kartikeyasingha adalah Prabu Kirathasingha (632-648). Shima memerintah Kerajaan Kalingga setelah suaminya meninggal dunia.
Ratu Shima putri seorang pendeta di wilayah Jawa kuno Bernama Hyang Syailendra putra Santanu. Sedangkan, ibunya Kartikeyasingha berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di Palembang. Raja Melayu Sribuja yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasingha.
Pernikahan Kartikeyasingha dengan Ratu Shima melahirkan dua orang anak, yaitu Dewi Parwati dan Narayana (Iswara).
Ketika memasuki era kepemimpinan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga makmur dan mencapai puncak kejayaan hingga nama sang ratu menjadi terkenal. Ratu Shima terkenal tegas, jujur dan bijaksana ketika menegakkan hukum dengan adil.
Diceritakan, Ratu Shima mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak tegas kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang tegas, yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.
Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemasyhuran rakyat Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum.
Untuk mengujinya, ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada seorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya.
Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima, demi menjunjung hukum, menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya.
Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman potong kaki.
Keruntuhan Kerajaan
Kerajaan Keling mulai melemah setelah Ratu Sima wafat pada tahun 695, yang disusul oleh serangan dari Kerajaan Sriwijaya serta konflik internal di dalam istana.
Kerajaan sempat dibagi menjadi dua bagian (utara dan selatan) untuk pewaris takhta, yang memicu persaingan kekuasaan dan melemahkan pertahanan pusat.
Munculnya kekuatan besar lain, seperti Kerajaan Sriwijaya, membuat perdagangan Keling tergeser. Pengaruh Sriwijaya yang kuat di jalur perdagangan maritim mendesak wilayah kekuasaan Kalingga di pesisir utara Jawa.
Perubahan jalur dagang dan perpindahan pusat kekuasaan tersebut turut mengakhiri riwayat kerajaan di pesisir utara Jawa Tengah ini.
Berita Tiongkok dan Catatan I-Tsing
Dalam catatan sejarah, Kerajaan Kalingga disebut orang Tiongkok dengan Holing. Berita keberadaan Ho-ling diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing, seorang biksu Buddha yang berkelana lewat laut ke India melalui jalur sutra.
Catatan zaman Dinasti Tang memberikan keterangan tentang keberadaan Ho-ling atau Jawa terletak di seberang lautan selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Bali) dan di sebelah barat terletak Sumatera.
Ibu kota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
Penduduk Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa. Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
Catatan dari berita Tiongkok ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh penguasa perempuan yang disebut Hsi-mo (Ratu Shima). Ia (Shima) seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Ho-ling sangat aman dan tentram.
Catatan I-Tsing tahun 664/665 Masehi menyebutkan bahwa abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha.
Di Ho-ling ada pendeta Tionghoa bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra.
Kitab terjemahan itu, antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
