Letusan Krakatau, Peristiwa Dahsyat Paling Merusak dalam Sejarah
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
UNGKIT.COM - Pada tahun 1883, terjadi peristiwa dahsyat paling mematikan dan sangat merusak dalam sejarah di Indonesia, terutama Lampung. Gunung Krakatau, yang terletak di perairan Selat Sunda, berada di antara Pulau Sumatera dan Jawa ini meletus hebat.
Tak hanya luluh lantakkan permukiman, belasan ribu jiwa warga Lampung menjadi korban. Jumlah itu lebih banyak dari korban perang yang pernah terjadi di ujung selatan Pulau Sumatera ini. Secara administratif, Gunung Krakatau termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sekarang.
Sebelumnya, Krakatau, atau dengan nama internasional Krakatoa, ataupun Rakata, pernah meletus hebat di tahun 535 Masehi yang menyebabkan terbentuknya Selat Sunda, hilangnya peradaban Pasemah Lampung dan Salakanegara Banten selama sekitar 20-30 tahun.
Ledakan Gunung Krakatau Purba itu menyebabkan tsunami, langit gelap dan cuaca dingin. Pada tahun 1680, pernah terjadi letusan juga. Peristiwa itu masih berlanjut terulang kembali, menyebabkan Krakatau sirna karena letusan kataklismik pada tanggal 26-27 Agustus 1883.
Letusan Gunung Krakatau di tahun 1883 yang terjadi di Hindia Belanda —sekarang Indonesia ini, dikenal karena letusannya yang sangat dahsyat dan dampaknya bisa dirasakan di berbagai penjuru dunia. Sebelum letusan itu, aktivitas seismik di sekitar Krakatau sangat tinggi, menyebabkan sejumlah gempa bumi yang dirasakan hingga ke Australia.
Pada tanggal 20 Mei 1883, pelepasan uap mulai terjadi secara teratur di Perboewatan, pulau paling utara di Kepulauan Krakatau. Pelepasan abu vulkanik mencapai ketinggian hingga 6 kilometer. Suara letusannya keras, terdengar sampai ke Batavia (sekarang Jakarta), yang berjarak 160 kilometer dari Krakatau. Aktivitas vulkanik menurun pada akhir Mei dan tidak ada aktivitas lebih lanjut yang tercatat hingga beberapa minggu ke depan.
Letusan kembali terjadi tanggal 16 Juni, yang menimbulkan letusan keras serta menutupi pulau dengan awan hitam tebal selama lima hari. Pada tanggal 24 Juni 1883, angin timur yang bertiup membersihkan awan tersebut dan dua gulungan kabut asap terlihat membubung dari Gunung Krakatau.
Letusan diyakini telah menyebabkan munculnya dua ventilasi baru yang terbentuk di antara Perboewatan dan Danan. Aktivitas gunung juga menyebabkan air pasang di sekitarnya jadi sangat tinggi. Kapal-kapal di pelabuhan harus ditambatkan dengan rantai agar tak terseret laut.
Guncangan gempa mulai terasa di Anyer, Jawa Barat, dan kapal-kapal Belanda melaporkan mengenai adanya batu apung besar yang mengambang di Samudra Hindia di sebelah barat.
Pada tanggal 11 Agustus, pakar topografi Belanda, Kapten H. J. G. Ferzenaar, mulai menyelidiki pulau. Dia menemukan tiga gulungan abu telah melingkupi pulau dan lepasan uap dari setidaknya sebelas ventilasi lainnya, sebagian besarnya terdapat di Danan dan Rakata.
Saat mendarat, Ferzenaar mencatat adanya lapisan abu vulkanik setebal hingga 0,5 meter serta musnahnya semua vegetasi pulau. Hanya menyisakan tunggul-tunggul pohon.
Keesokan harinya, sebuah kapal yang lewat melaporkan mengenai adanya ventilasi baru yang berjarak hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Aktivitas vulkanik Krakatau terus berlanjut, hingga pertengahan Agustus 1883.
Di tanggal 25 Agustus, letusan semakin meningkat. Sekitar pukul 13.00 WIB, tanggal 26 Agustus, Krakatau memasuki fase paroksimal. Satu jam kemudian, para pengamat dapat melihat awan abu hitam dengan ketinggian 27 kilometer. Ketika itu, letusan terjadi terus menerus dan ledakan terdengar hampir setiap sepuluh menit sekali.
Kapal-kapal yang berlayar di dalam jarak sekitar 20 kilometer dari Krakatau dihujani abu tebal, dengan potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10 centimeter mendarat di dek-dek kapal. Tsunami kecil menghantam pesisir Pulau Sumatera dan Jawa hampir 40 kilometer jauhnya pada sekira pukul 18.00 dan 19.00 WIB.
Pada tanggal 27 Agustus, empat letusan besar terjadi, pukul 05.30, 06.44, 10.02 dan 10:41 waktu setempat. Pada pukul 5.30 WIB, letusan pertama terjadi di Perboewatan, yang memicu tsunami menuju Teluk Betung. Pukul 06.44 WIB, Krakatau meletus lagi di Danan, menimbulkan tsunami di arah timur dan barat. Letusan besar pukul 10.02 WIB terjadi begitu keras dan terdengar hampir 3.110 kilometer jauhnya ke Perth, Australia Barat, dan Rodrigues, di Mauritius.
Penduduk yang ada di sana mengira letusan itu suara tembakan meriam dari kapal terdekat. Masing-masing letusan ini disertai dengan gelombang tsunami, yang tingginya diyakini mencapai hingga 30 meter di beberapa tempat. Wilayah-wilayah di Selat Sunda serta sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut pula terkena dampak aliran piroklastik gunung berapi aktif ini.
Energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT, kira-kira hampir empat kali lipat lebih kuat dari Tsar Bomba —senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan. Pada pukul 10.41 WIB, tanah longsor yang meruntuhkan setengah bagian dari Rakata, memicu terjadinya letusan akhir. Gelombang tekanan yang dihasilkan letusan kolosal keempat dan terakhir terpancar keluar dari Gunung Krakatau, hingga mencapai kecepatan 1.086 kilometer per jam.
Letusannya begitu keras, seakan memecahkan gendang telinga para pelaut yang kala itu sedang berlayar di Selat Sunda dan menyebabkan lonjakan tekanan lebih dari dua setengah inci merkuri (ca 85 hPa) pada alat pengukur tekanan yang terpasang di Batavia. Gelombang tekanan terpancar dan tercatat oleh barograf di seluruh dunia, yang tetap terjadi hingga 5 hari setelah letusan.
Rekaman barografis menunjukkan bahwa gelombang kejut dari letusan terakhir bergema ke berbagai penjuru dunia sebanyak 7 kali. Ketinggian kabut asap diperkirakan mencapai 80 kilometer.
Pada tengah hari tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun di Ketimbang (sekarang Desa Banding, Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan). Kombinasi aliran piroklastik, abu vulkanik dan juga tsunami berdampak besar terhadap wilayah sekitar Krakatau.
Tak satupun yang selamat dari total 3.000-an orang penduduk Pulau Sebesi, yang jaraknya sekitar 13 km, atau 8,1 mil dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih 1.000-an orang di Ketimbang dan di pesisir Lampung, yang berjarak 40 kilometer (25 mil) di sebelah utara Krakatau.
Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda, baik di Lampung, Banten dan Batavia sebanyak 36.417 jiwa. Dengan rincian, 165 kampung hancur total, 132 kampung hancur sebagian. Tetapi, beberapa sumber menyatakan jumlah korban jiwa keseluruhan melebihi 120.000 orang.
Kapal-kapal yang berlayar jauh ke Afrika Selatan juga melaporkan adanya guncangan tsunami. Mayat dari para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian. Merak, Banten, luluh lantak oleh tsunami. Begitu pula dengan daerah-daerah di sepanjang pantai selatan Sumatera, hingga 40 kilometer (25 mil) jauhnya ke daratan.
Akibat letusan Krakatau, pulau-pulau di Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di selatan. Gunung api kerucut Rakata terpisah di sepanjang tebing vertikal, menyisakan kaldera sedalam 250-meter (820 ft).
Dari dua pulau di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang tersisa. Poolsche Hoed juga menghilang sepenuhnya. Letusannya mulai berkurang setelah itu. Pada tanggal 28 Agustus pagi Krakatau terdiam. Letusan kecil, sebagian besarnya mengeluarkan lumpur, tetap berlanjut hingga Oktober 1883.
Letusan Krakatau, salah satu ledakan dengan suara paling keras yang pernah tercatat dalam sejarah dan terdengar setidaknya 3.000 mil (4.800 kilometer) jauhnya. Letusannya ini menimbulkan tsunami ketika menghantam perairan Selat Sunda.
Ketinggian gelombang tsunami-nya mencapai 24 meter (79 kaki) di sepanjang pantai selatan Sumatera dan 42 meter atau 138 kaki di sepanjang pantai barat Pulau Jawa.
Tsunami membawa batu-batu karang raksasa. Seluruh hutan tumbang dan hanyut, hingga hanya menyisakan akarnya saja. Tsunami datang setelah air laut surut dan disertai suara yang memekakkan telinga.
Saking hebatnya, suara letusan itu sampai ke kawasan Bandung, Jawa Barat. Di dalam surat kepada keluarganya, Rudolph Eduard Ker-khoven (1848-1918) mengatakan, suara dari letusan Gunung Krakatau ini seperti ledakan sebuah meriam yang berada di bawah jendela rumah mereka di Gambung, dekat Ciwidey.
Kejadian tersebut juga sempat tercatat di dalam Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh, seorang yang kemungkinan asli Lampung namun mengungsi ke Singapura. Kitab syair itu terbit tahun 1888, menceritakan secara dramatis soal kengerian serta keadaan kacau balau ketika Krakatau itu meletus. Dapat dikatakan, kitab ini menceritakan letusan Krakatau satu-satunya dari perspektif pri-bumi sendiri.
Jumlah korban yang tewas akibat letusan serta gelombang tsunami dipastikan mencapai 36.417 orang. Dampak tsunami itu sangat kuat. Bahkan, dampaknya sedemikian rupa, sehingga permukiman yang ada di wilayah Banten musnah dan tidak pernah dihuni kembali. Wilayah ini, dibangun lagi dan kemudian dinyatakan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon.
Secara terperinci, jumlah korban jiwa yang terbanyak berada di wilayah Banten sekitar 21.565 orang, Lampung sekitar 12.565 orang dan di Batavia (Jakarta) sekitar 2.350 orang. Di Pulau Sebesi, korban sekitar tiga ribuan orang dan tidak ada satupun yang selamat di pulau tersebut. Kebanyakan korban yang meninggal akibat tsunami, abu vulkanik dan kelaparan yang ditimbulkan pasca letusan.
Peristiwa mengerikan tersebut tidak hanya menelan korban jiwa, kerusakan harta dan benda, tetapi juga menyebabkan musim dingin vulkanik selama 5 tahun lamanya. Gelombang tekanan akustik mengelilingi dunia lebih dari tiga kali.
Dampak tambahan yang signifikan dirasakan di dunia dalam beberapa hari dan minggu setelah letusan gunung berapi aktif itu. Letusan Krakatau menggelapkan langit di seluruh dunia selama beberapa tahun setelahnya dan menghasilkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler selama beberapa bulan.
Seniman Inggris, William Ascroft, membuat sketsa berwarna tentang matahari terbenam merah di sekitar setengah dunia dari Krakatau dalam beberapa tahun setelah letusan. Letusan itu juga menghasilkan Cincin Uskup di sekitar matahari di siang hari dan cahaya ungu vulkanik pada senja dan bulan jadi berubah warnanya.
Pada tahun 2004, seorang ahli astronomi mengusulkan langit merah yang terlihat di lukisan The Scream karya Edvard Munch tahun 1893 adalah gambaran yang akurat dari langit di Norwegia setelah letusan tersebut.
Para pengamat cuaca masa itu melacak dan memetakan efeknya pada langit. Mereka memberi label fenomena ini sebagai "aliran asap ekwatorial." Ini identifikasi pertama dari apa yang sekarang dikenal sebagai jet stream.
Selama beberapa tahun setelah letusan, dilaporkan cahaya bulan terlihat berwarna biru, hingga terkadang hijau. Hal tersebut disebabkan karena beberapa awan abu berisi partikel dengan lebar sekitar 1 μm —ukuran tepat untuk menyebarkan cahaya merah dengan kuat sambil memungkinkan warna lainnya untuk lewat.
Cahaya bulan putih yang bersinar melalui awan muncul berwarna biru dan terkadang hijau. Orang juga melihat bagaimana matahari berwarna lavender dan untuk pertama kalinya mencatat awan noktilusen.
Letusan dahsyat Gunung Krakatau yang terjadi pada tanggal 25-27 Agustus 1883 itu telah memuntahkan isi perut gunung sehingga mampu memporak porandakan, bahkan melenyapkan kehidupan yang berada di daerah-daerah ujung Pulau Sumatera, khususnya Lampung dan Jawa.
Akibat dari letusan itupun terasa hingga ke negara lain, seperti Australia, Singapura, Malaysia, bahkan sampai ke Eropa. Sungguh bencana alam paling mengerikan yang pernah menimpah rakyat Lampung khususnya.
Wilayah paling selatan Pulau Sumatera, daerah yang sangat menderita akibat letusan Gunung Krakatau. Sepanjang pantai, terutama di Teluk Betung, tidak ditemukan adanya kehidupan kembali, tak terlihat warga yang masih hidup. Jalur komunikasi ketika itu semua terputus.
Begitu pula dengan daerah Banten, sejauh mata memandang yang tam-pak hanyalah hamparan pasir dan lumpur. Keadaan kacau balau. Daerah Merak, hingga Caringin musnah.
Mercusuar tidak ada lagi, sehingga tak ada alat untuk memandu pelayaran. Mayat-mayat di sana berserakan di sepanjang pantai, tidak ada tenaga untuk memakamkan mereka.
Keadaan di Pelabuhan Tanjung Priuk juga tidak lebih baik dari daerah lain. Seluruh pelabuhan tergenang air, sehingga tidak berfungsi lagi. Ketinggian airnya telah mencapai 20 meter. Karena itu, semua pegawai menyelamatkan diri, menjauh dari keadaan yang tidak bersahabat itu.
Kampung Pasir di Tangerang, bahkan lenyap, hingga Ketapang di Tanjung Kail. Begitu pula daerah Sembilangan laut, Cilincing, lenyap ditelan ombak. Beberapa pulau di Kepulauan Seribu juga menghilang dari permukaan air laut.
Selat Sunda yang biasanya ramai dilayari berbagai kapal, tiba-tiba berubah menjadi petaka bagi kapal-kapal yang sedang berada di perairan itu. Sebagaimana laporan dari para nahkoda kapal yang ditujukan kepada gubernur jenderal, mereka menjadi saksi kedahsyatan letusan gunung ini.
Kapal tidak dapat meneruskan perjalanan, maupun kembali ke tempat asalnya. Beberapa kapal terjebak dalam gelombang pasang yang panas, hujan abu, batu-batu apung, bahkan terkena sambaran petir.
Mereka dengan sangat terpaksa harus melakukan pendaratan secepatnya di pelabuhan-pelabuhan terdekat. Malangnya, pelabuhan tersebut porak poranda karena letusan serta dihantam ombak hingga habis tergerus.
Keadaan seperti ini membuat pemerintah pusat di Batavia mengambil alih untuk memberikan pertolongan kepada korban di daerah-daerah yang terkena dampak letusan. Tapi, sulit bagi pemerintah untuk memprioritaskan daerah mana yang harus mendapatkan bantuan terlebih dahulu.
Untungnya, banyak pihak yang bersedia memberikan pertolongan. Bantuan beras datang dari berbagai daerah, dokter datang dari Batavia, rumah-rumah berangsur-angsur dibangun. Demikian pula sektor perkebunan dan pertanian. Butuh waktu hingga puluhan tahun untuk membangun kembali di wilayah yang terdampak.
Letusan Gunung Krakatau itu, memang salah satu bencana alam terdahsyat dalam sejarah modern yang dampaknya terasa sangat parah di wilayah Lampung, khususnya di pesisir barat dan selatan Lampung.
Gelombang tsunami setinggi puluhan meter tersebut menerjang pesisir barat Lampung serta Teluk Betung. Gelombang besar menghancurkan banyak desa dan umbul, menenggelamkan permukiman serta menyeret kapal-kapal, termasuk kapal dagang besar hingga jauh ke daratan.
Letusan tersebut telah meruntuhkan dua pertiga di bagian utara Pulau Krakatau, yang kemudian mengubah bentang alam Selat Sunda secara drastis. Material letusan serta tsunami mengubah garis pantai Lampung.
Jejak dahsyatnya letusan Gunung Krakatau dibuktikan dengan benda-benda dari laut yang terlempar sangat jauh hingga ke tengah-tengah kawasan permukiman penduduk di Teluk Betung, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung saat ini. Benda-benda, berupa rambu laut dan lampu mercusuar, yang semula berada di tepi pantai itu terlempar jauh ke tengah kota.
Salah satu lampu suar yang dihempaskan oleh kedahsyatan letusan Krakatau ditemukan di Kampung Upas, Teluk Betung. Rambu laut itu semula berada di Pelabuhan Gudang Agen, yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Kampung Upas.
Untuk mengingat peristiwa dahsyat tersebut, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Monumen Krakatau dengan ornamen utama rambut laut itu pada sekitar tahun 1884-1885. Monumen ini berada di tengah-tengah Taman Dipangga, di Jalan WR Supratman, Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, tak jauh dari Mapolda Lampung lama.
Di bagian sisi monumen berhiaskan relief menceritakan peristiwa dahsyat tersebut. Masyarakat yang selamat dari maut kala itu berbondong-bondong mengungsi dengan membawa barang-barang bawaan mereka. Kemudian, ada pula gambar relief Gunung Krakatau meletus serta kehidupan masyarakat di pesisir pantai.
Monumen Krakatau, berupa sebuah rambu laut seberat 250 kilogram di Taman Dipangga di Ruang Terbuka Hijau Kota Bandar Lampung, yang dulunya lokasi Kantor Residen Lampung pada masa pemerintahan Hindia Belanda ini, juga berfungsi sebagai monumen nol kilometer Lampung. Dari sinilah titik nol kilometer untuk perhitungan jarak antar kota di Provinsi Lampung bermula.
Untuk diketahui, jarak laut dengan lokasi ini cukup jauh, sekitar 45 kilometer lebih dari Gunung Krakatau di Selat Sunda. Taman Dipangga, tempat monumen mercusuar itu pun berada di dataran yang tinggi. Hal ini membuktikan sebegitu dahsyatnya letusan serta tsunami Krakatau di tahun 1883 tersebut.
Selain di Kampung Upas, terdapat pula rambu laut yang terlempar hingga Kampung Talang, Kecamatan Teluk Betung Selatan. Lalu, jangkar dan lampu suar, yang kini disimpan di Museum Negeri Lampung, di Jalan ZA Pagar Alam.
Dulu juga ada kapal dagang Belanda, berukuran panjang sekitar 20-an meter yang terdampar sampai Sumur Putri, sekitar 2 kilometer dari bibir pantai di Gudang Agen. Namun, kini puing-puing material kapal tersebut sudah raib tidak ada lagi. (*)
*) Dikutip dari buku yang ditulis Akhmad Sadad berjudul "Lampung Prasejarah & Sejarah: Traces of Civilization in The Southern Tip of Sumatra," yang diterbitkan Faith Books, 2026.
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
