BREAKING NEWS

Menara Siger, Landmark Lampung dan Titik Nol Pulau Sumatera

Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Menara Siger merupakan landmark Provinsi Lampung, sekaligus titik nol kilometer Pulau Sumatera, yang diresmikan oleh Gubernur Lampung, Sjachroedin Z.P., pada tanggal 30 April 2008.

Komjen Pol. (Purn) Drs. H. Sjachroedin Zainal Pagaralam, kepala daerah yang membangun Menara Siger ini, menjabat sebagai Gubernur Lampung selama dua periode, yaitu 2004–2009 dan 2009–2014.

Menara Siger yang terletak di Bukit Gamping, Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan ini, memiliki bentuk yang unik dengan sembilan kerucut berwarna kuning keemasan yang berderet memanjang. 

Bentuk itu mengadaptasi bentuk Siger, mahkota pengantin wanita dalam adat Lampung. Sedangkan, pucuknya yang berjumlah sembilan simbolisasi sembilan bahasa yang ada dalam masyarakat Lampung. 

Kerucut pada bagian tengah berukuran lebih besar dan lebih tinggi yang menjadi puncak dari menara ini. Bangunan itu juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung Saibatin.

Menara yang dibangun di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni yang berada di di ketinggian 110 meter di atas permukaan laut tersebut karya arsitek asli Lampung, Ir. H. Anshori Djausal M.T.

Posisi strategis Pelabuhan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera diibaratkan sebagai mulut naga yang memuntahkan kurang lebih 80 ribu ton hasil-hasil pertanian per hari. Dengan penggunaan teknik ferrocement, Menara Siger dijamin mampu menahan terpaan angin kencang.

Teknik ferrocement pengembangan tim arsitek Menara Siger, dengan menggunakan jaring kawat menyerupai jaring laba-laba. Pengerjaan lambang siger dan beberapa ornamen tidak menggunakan cor-coran, tetapi bagian per bagian dengan tangan. Dengan metode ini, setiap inci bangunan tahan guncangan dan terpaan angin laut.

Menata Siger perpaduan antara land mark dan pariwisata ini dilengkapi dengan tulisan penanda Titik Nol Pulau Sumatera. Di sekitar tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan budaya Lampung serta sarana-prasarana pariwisata.

Menara Siger dengan warna emas itu dilengkapi ruangan tempat wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.

Bangunan Menara Siger berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA) serta panca gatra, yaitu berisi ideologi dan hankam. 

Payung tiga warna, yakni putih, kuning dan merah, menandai puncak menara. Payung ini sebagai simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger Prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan. 

Menara Siger tak hanya berbentuk sebuah fisik bangunan, tetapi mencerminkan budaya serta identitas komunitas budaya masyarakat Lampung Pepadun dan Pesisir/Saibatin sesuai dengan filosofi berpikir dan bertindak serta visi dan misi mewujudkan Lampung yang unggul dan bardaya saing. (*)

*) Sebagian tulisan ini dikutip dari buku "Merampungkan Tugas Sejarah", Penerbit PT. Media Kisah Hidup, 2014, memoar satu dekade kepemimpinan mantan Gubernur Lampung, Komjen Pol. (Purn) Drs. H. Sjachroedin Z.P., yang ditulis oleh Zulfikar Fuad, dengan penulis pendamping Akhmad Sadad dan Rifyal Qurban.
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment