Militer Iran Respon Ancaman Trump dengan Serangan yang Lebih Dahsyat
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpidato di Sidang Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB di New York, pada 22 September 2026. (Sumber Foto: AFP) |
NEW YORK, UNGKIT.COM - Usai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan memusnahkan Iran jika negara tersebut tidak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS), pihak militer Iran buka suara.
Staf Umum Angkatan Bersenjata – badan militer tertinggi Iran – memperingatkan bahwa mereka siap merespons dengan serangan yang lebih dahsyat dan "menghancurkan" daripada sebelumnya dalam perang.
Komentar militer itu muncul usai Trump mengancam akan membinasakan Iran saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa waktu setempat (22/9/2026).
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Mehr, dilansir Rabu (23/9/2026), Staf Umum Iran menuduh presiden AS itu memanfaatkan podium Majelis Umum PBB untuk membenarkan agresi.
"Kata-kata semacam itu menunjukkan jalan buntu strategis yang dihadapi Amerika dalam agresinya terhadap bangsa Iran," bunyi pernyataan tersebut.
Militer juga menyebut ancaman berulang Trump itu bukanlah tanda kekuatan. Melainkan tanda keputusasaan strategis mereka," demikian tambah bunyi pernyataan.
Beberapa jam setelah pengancaman saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru mengatakan kepada wartawan bahwa para pejabat AS mengadakan pertemuan yang "sangat baik" dengan para pemimpin Iran.
Trump mengatakan utusannya – Steve Witkoff dan Jared Kushner – bertemu dengan pejabat Iran selama sekitar tiga jam di sela-sela Sidang Umum PBB.
Dia menggambarkannya sebagai "pertemuan yang sangat baik", sambil mengakui bahwa perwakilan Iran "bukanlah dari tingkat tertinggi". Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut serta dengan para mediator bolak-balik antara tim AS dan Iran.
Witkoff kemudian mengatakan bahwa diskusi telah selesai dan menyatakan harapan bahwa diskusi tersebut akan terbukti "konstruktif dan menjanjikan".
Pembicaraan tersebut diyakini sebagai diskusi tatap muka pertama antara pejabat dari kedua negara sejak Wakil Presiden AS, JD Vance, bertemu dengan pejabat senior Iran di Swiss pada bulan Juni. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
