BREAKING NEWS

Pasola, Tradisi Perang Adat dan Ketangkasan Melempar Lembing Kayu dari Atas Kuda

Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Pasola, tradisi perang adat, berupa permainan ketangkasan melempar lembing kayu dari atas kuda yang berlari kencang antara dua kelompok berlawanan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pasola berasal dari kata sola atau hola (lembing kayu), lalu mendapat imbuhan pa- menjadi kata pa-sola atau pa-hola, yang berarti permainan atau saling melempar lembing.

Tradisi perang adat ini merupakan bagian dari ritual kepercayaan Marapu untuk memohon kesuburan tanah dan keberhasilan panen.

Masyarakat setempat meyakini tetesan darah yang keluar di arena pertarungan menjadi simbol kesuburan dan rezeki bagi alam.

Tradisi perang adat tersebut digelar di beberapa wilayah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya seperti Kodi, Lamboya, Wanokaka, dan Gaura.

Pasola diadakan setahun sekali pada musim tanam antara bulan Februari hingga Maret. Pada awal musim tanam, tepatnya pada Februari di Kecamatan Lamboya dan Maret di Kecamatan Wanokaka dan Laboya Barat atau Gaura.

Tanggal pasti dalam pelaksanaan Pasola ditentukan oleh para rato berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang dan juga dengan melihat tanda-tanda alam. 

Satu bulan sebelum Pasola dilaksanakan, seluruh warga wajib untuk mematuhi berbagai pantangan, seperti tidak boleh mengadakan pesta maupun membangun rumah.

Rangkaian tradisi Pasola bertepatan dengan musim tanam dan ritual penangkapan cacing laut, yang dalam Bahasa daerah setempat disebut nyale.

Sejarah Pasola

Melansir laman Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, sejarah tradisi Pasola berakar dari legenda cinta segi tiga yang terjadi di masa lampau. 

Kisah dimulai dengan tiga bersaudara dari kampung Weiwuang, yaitu Ngongo Tau Matutu, Yagi Waikareri, dan Ubu Dulla, yang memutuskan untuk berlayar ke Negeri Muhu Karera untuk mencari ikan demi istri-istri mereka.

Tapi, ketiganya tak kunjung kembali setelah beberapa hari, para istri dan warga desa menjadi cemas. Istri Ubu Dulla, Rabu Kabba bahkan sering pergi ke tepi pantai sambil berharap suaminya kembali.

Suatu hari, Rabu Kabba menemukan sebuah perahu yang akan bersandar di tepi pantai. Namun sayangnya, perahu tersebut bukanlah milik Ubu Dulla, melainkan milik seorang pemuda dari Kodi yang bernama Teda Gaiparona.

Karena sering bersama, Rabu Kabba dan Teda Gaiparona akhirnya jatuh cinta. Namun, cinta mereka terhalang oleh adat setempat sehingga mereka memutuskan untuk kawin lari.

Tidak lama setelah itu, Ngongo Tau Matutu, Yagi Waikareri, dan Ubu Dulla kembali ke Weiwuang. Ubu Dulla terkejut saat mengetahui bahwa istrinya telah pergi dengan pria lain.

Meski pada awalnya tak terima, namun Ubu Dulla akhirnya merelakan istrinya bersama Teda Gaiparona dengan syarat agar Teda Gaiparona mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla seperti pada hari pernikahan mereka.

Teda Gaiparona pun menyetujui syarat tersebut. Sebagai simbol kemakmuran, Ubu Dulla diberikan sebungkus cacing nyale untuk dibawa pulang ke Weiwuang. 

Tak hanya itu, keduanya juga sepakat untuk menyelenggarakan Pasola sebagai penghormatan atas kebesaran hati Ubu Dulla yang mampu menerima kepergian sang istri.

Dalam legenda ini, Pasola menjadi sebuah tradisi yang dijalankan untuk mengenang dan menghormati kebesaran hati Ubu Dulla yang mampu merelakan istrinya hidup bersama pria lain serta sebagai simbol perdamaian di antara mereka.

Rangkaian Tradisi Pasola

Rangkaian tradisi Pasola diawali dengan pelaksanaan adat nyale, yaitu berkaitan dengan ungkapan syukur atas hasil alam, yang ditandai oleh datangnya musim panen dan kemunculan cacing laut dalam jumlah besar di pesisir. 

Upacara ini berlangsung pada saat bulan purnama, ketika cacing laut (nyale) muncul di tepi pantai. Para Rato, yaitu pemuka adat, menentukan waktu kemunculan nyale yang umumnya terjadi pada pagi hari setelah fajar. 

Nyale pertama yang ditemukan oleh Rato kemudian dibawa ke pertemuan para pemuka adat untuk diperiksa, terutama dari segi bentuk dan warna. 

Nyale yang tampak gemuk, sehat, dan berwarna cerah ditafsirkan sebagai pertanda baik bagi hasil panen, sedangkan kondisi yang kurus dan rapuh dianggap sebagai pertanda kurang baik. 

Setelah proses ini selesai, masyarakat diperbolehkan melakukan penangkapan nyale. Pelaksanaan pasola tidak dapat dilakukan tanpa adanya nyale.

Pasola diselenggarakan di padang terbuka dan disaksikan oleh masyarakat dari kedua kelompok peserta, warga umum maupun pengunjung. 

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 orang penunggang kuda yang membawa lembing kayu berujung tumpul dengan diameter sekitar 1,5 centimeter. Meskipun tidak runcing, penggunaan lembing tersebut tetap berpotensi menimbulkan cedera serius. 

Dalam kepercayaan Marapu, korban yang terjadi dalam pasola dihubungkan dengan konsekuensi atas pelanggaran adat. 

Pertandingan berlangsung dengan dua kelompok yang saling berhadapan, menunggang kuda dan melempar lembing ke arah lawan sambil berupaya menghindari serangan. 

Suasana permainan ditandai oleh gerakan kuda yang cepat, suara hentakan kaki kuda, serta seruan para peserta dan penonton. 

Darah yang tertumpah selama pasola dipercaya memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kesuburan tanah dan keberhasilan panen. 

Apabila terjadi kematian, hal tersebut dalam pandangan kepercayaan setempat dikaitkan dengan adanya pelanggaran norma adat yang telah terjadi sebelumnya. 

Tak Hanya Bentuk Perayaan

Tradisi adat Pasola tidak hanya dipandang sebagai bentuk perayaan, maupun bagian dari praktik religius yang mencerminkan unsur kepercayaan dalam agama Marapu, tetapi juga sebagai wujud pengabdian serta pernyataan ketaatan kepada leluhur. 

Selain itu, pasola berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial, baik antara kelompok yang terlibat langsung dalam pelaksanaan maupun dalam masyarakat secara luas. 

Tradisi Pasola juga mencerminkan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat atas hasil panen yang diperoleh. 

Dalam perkembangannya, pasola turut berperan sebagai daya tarik budaya yang mendukung sektor pariwisata di Sumba. 

Dalam setiap penyelenggaraannya, kegiatan ini telah dikenal oleh wisatawan mancanegara dan sering menarik kehadiran pengunjung. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment