BREAKING NEWS

Tiga Suku di Asia dengan Tradisi Pemakaman Peti Mati Gantung, Salah Satunya di Indonesia



UNGKIT.COM - Pemakaman peti mati gantung (hanging coffins), sebuah ritual pemakaman kuno, di mana peti mati ditempatkan di celah-celah maupun dalam tebing curam atau dinding gua. 

Meskipun terkesan ekstrem, praktik menaruh peti mati di atas tebing ini berkembang di beberapa kebudayaan Asia dengan makna spiritual yang mendalam.

Ada tiga suku di wilayah Asia yang memiliki tradisi pemakaman peti mati gantung, yakni suku Igorot di wilayah Sagada, Luzon, Filipina, Suku Bo dan Guyue di China, serta suku Toraja di Tana Toraja, Indonesia.

Di wilayah Sagada, Luzon, Filipina, suku Igorot telah mempraktikkan tradisi peti mati gantung ini selama lebih dari 2.000 tahun.

Peti mati kayu berukuran kecil, karena jenazah diposisikan meringkuk seperti janin, dipaku atau diikat ke sisi tebing batu kapur dan dinding gua.

Suku Igorot percaya semakin tinggi peti mati diletakkan, maka semakin dekat jiwa orang yang meninggal dengan roh leluhur mereka (Anito). Selain itu, metode ini menjaga jenazah agar aman dari hewan liar maupun banjir,

Sementara, di China, dikenal sebagai tempat asal mula sejarah peti mati gantung kuno yang paling masif, khususnya di wilayah tebing sepanjang Sungai Yangtze (seperti di Provinsi Sichuan dan Yunnan). 

Tradisi tersebut dipraktikkan oleh etnis minoritas kuno yang kini telah punah, seperti Suku Bo dan Suku Guyue. Peti mati kayu utuh yang beratnya bisa mencapai ratusan kilogram diletakkan di atas pasak kayu yang ditancapkan ke lubang tebing, atau diselipkan ke dalam gua-gua alam yang tinggi.

Mirip dengan Igorot, penempatan tebing tinggi dianggap bentuk penghormatan dan cara membawa mendiang lebih dekat ke surga. Hal ini juga dipercaya membawa keberkahan bagi keturunan yang ditinggalkan.

Sedangkan, Indonesia memiliki tradisi serupa yang masih sangat lestari di Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, melalui situs pemakaman tebing batu, seperti di Londa dan Batu Lemo.

Londa, kompleks pemakaman tebing dan gua alami di Desa Sandan Uai yang menyimpan peti mati kuno (erong), tengkorak, serta patung leluhur (Tau-tau) milik keluarga bangsawan. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin tinggi pula letak liang makamnya di tebing.

Batu Lemo, tebing batu raksasa tempat dipahatnya puluhan lubang makam yang dilengkapi dengan Tau-tau berdiri menghadap ke luar di galeri khusus seolah menjaga arwah para leluhur.

Berbeda dengan suku Igorot yang menggantung peti di dinding luar, masyarakat Toraja umumnya memahat tebing batu kapur secara manual untuk membuat liang kubur (Liang Pa'). Peti mati diletakkan di dalam lubang dinding tebing terjal atau gua alami.

Dahulu, posisi liang yang semakin tinggi di tebing dipercaya mencerminkan status sosial, kehormatan, atau kedudukan bangsawan seseorang saat masih hidup.

Ciri khas Toraja, yakni keberadaan Tau-tau, yaitu patung kayu yang dipahat menyerupai mendiang dan diletakkan di barisan balkon tebing.

Bagi masyarakat Toraja yang menganut kepercayaan leluhur Aluk Todolo, kematian adalah sebuah perjalanan menuju Puya (dunia arwah). 

Pemakaman di tempat tinggi disesuaikan dengan strata sosial dan bentuk penghormatan agar arwah leluhur dapat mengawasi sekaligus memberkati keluarga yang masih hidup dari atas. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment