BREAKING NEWS

Etnis Berbahasa Austronesia dan Persebarannya

Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Etnis berbahasa Austronesia merupakan kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, mencakup wilayah yang sangat luas dari Asia Tenggara, Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di timur, serta dari Taiwan hingga Selandia Baru.

Mereka, antara lain meliputi penduduk asli Taiwan; kebanyakan kelompok etnisnya berada di Filipina, Malaysia, Timor Leste, Indonesia, Brunei, Kepulauan Cocos (Keeling), Madagaskar, Mikronesia, dan Polinesia, serta suku Melayu di Singapura, suku bangsa Polinesia dari Selandia Baru dan Hawaii, dan beberapa suku di Pulau Papua dan wilayah Melanesia. 

Kemudian, mereka juga ditemukan di kawasan Pattani di Thailand, kawasan Cham di Vietnam dan Kamboja, dan kawasan Hainan di Tiongkok, sebagian Sri Lanka, selatan Myanmar, ujung selatan Afrika Selatan, Suriname, dan sebagian kecil Kepulauan Andaman, Kepulauan Cocos (Keeling), dan Pulau Natal serta Australia. 

Kebanyakan orang Austronesia memiliki ciri-ciri fisik dengan penampilan serupa, seperti kulit berwarna coklat muda sampai coklat tua dengan rambut lurus, keriting dan bergelombang atau ikal.

Secara umum, bangsa Austronesia atau suku-suku penutur bahasa Austronesia sekumpulan etnolinguistik atau gabungan berbagai etnis besar di benua Asia, khususnya Asia Tenggara, sebagian Oseania dan sebagian kecil Afrika yang memakai bahasa-bahasa dari keluarga Austronesia. 

Bangsa atau etnis ini bukan merupakan satu ras tunggal, melainkan kelompok penutur bahasa dengan ciri kebudayaan maritim, agraris, serta asal-usul migrasi yang diyakini berawal dari Taiwan sekitar ribuan tahun lalu.

Berdasarkan konsensus ilmiah saat ini, mereka menyebar melalui migrasi laut prasejarah yang dimulai dari Taiwan pra-Han, sekitar 3000 hingga 1500 Sebelum Masehi. 

Suku bangsa Austronesia mencapai ujung utara Filipina, khususnya Kepulauan Batanes, sekitar 2200 Ssebelum Masehi. Bangsa Austronesia mengembangkan perahu berlayar beberapa waktu sebelum tahun 2000 Sebelum Masehi. 

Mereka memanfaatkan berbagai teknologi maritim yang mumpuni, terutama katamaran, perahu cadik, teknik pembuatan perahu papan ikat dan kupingan pengikat, serta layar capit kepiting) untuk menjelajahi pulau-pulau di Indo-Pasifik. 

Sejak 2000 Sebelum Masehi, mereka berasimilasi, atau terasimilasi, dengan populasi Paleolitik Negrito dan Australo-Melanesia yang lebih tua. 

Mereka mencapai Pulau Paskah di ujung timur, Madagaskar di ujung barat, dan Selandia Baru di ujung selatan. Pada tingkat terjauh, mereka juga diperkirakan telah mencapai Benua Amerika dan bahkan Antarktika.

Selain bahasa, masyarakat Austronesia secara luas berbagi kesamaan budaya, termasuk tradisi dan teknologi rajah, rumah panggung, ukiran giok, pertanian di lahan basah, dan berbagai karya seni batu. Mereka juga diyakini turut membawa berbagai tanaman dan hewan peliharaan dalam perjalanan migrasi. 

Asal-usul Istilah "Austronesia"

Asal-usul istilah "Austronesia" pertama kali dilontarkan oleh ahli bahasa dan etnolog Austria, Wilhelm Schmidt, pada tahun 1899. Istilah "Austronesia" (bahasa Jerman: austronesisch, dari bahasa Latin auster, "angin selatan" dan bahasa Yunani νῆσος, "pulau") untuk menyebut suatu rumpun bahasa.

Usulan Schmidt memiliki motivasi yang sama dengan Codrington. Ia mengusulkan istilah itu sebagai pengganti "Melayu-Polinesia", karena penentangannya akan ketidakterwakilan Melanesia dan Mikronesia dalam nama Melayu-Polinesia. Nama tersebut diterima untuk menyebut rumpun bahasa yang beranggotakan bahasa Oseanik dan Melayu-Polinesia.

Hal ini menyebabkan penggunaan istilah "Austronesia" dalam literatur akademis untuk merujuk tidak hanya pada bahasa Austronesia, tetapi juga masyarakat penutur Austronesia dan wilayah Austronesia. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment