BREAKING NEWS

Kerajaan Pannai, Wilayah yang Kaya Hasil Alam di Sumatera Utara

Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM


UNGKIT.COM - Kerajaan Panai, sering ditulis Pannai atau Pane, merupakan kerajaan bercorak Buddha aliran Tantrayana yang pernah berdiri dari abad ke-11 hingga abad ke-14 Masehi di pesisir timur Sumatera Utara, Pulau Sumatera, Indonesia.

Wilayah kekuasaannya diperkirakan berada di lembah Sungai Panai dan Sungai Barumun, yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Menurut para ahli, kata Pannai dalam bahasa Tamil berarti "ladang" atau "tanah pertanian" yang dialiri air dengan baik (well-watered fields). Hal ini selaras dengan kondisi geografisnya yang diapit oleh sungai-sungai besar.

Meskipun termasuk kerajaan kecil, nama Panai cukup penting hingga dicatat oleh kerajaan besar di Asia, seperti pada Prasasti Tanjore di India, dan Kitab Negarakertagama dari Majapahit.

Prasasti Tanjore (1030 M), sumber tertulis paling awal yang dikeluarkan oleh Raja Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola, India Selatan.

Prasasti ini menyebutkan bahwa Panai salah satu wilayah di bawah pengaruh Sriwijaya yang berhasil ditaklukkan oleh serbuan tentara Chola.

Selain Pannai, penyerbuan Chola ini juga disebutkan telah menaklukkan Malaiyur, Ilangasogam, Madamalingam, Ilamuri-Desam, dan Kadaram.

Disebutkannya, Kerajaan Pannai sebagai salah satu negeri taklukan dalam penyerbuan ke Sriwijaya ini, menimbulkan dugaan Kerajaan Pannai salah satu negeri mandala Sriwijaya.

Tiga abad kemudian nama kerajaan ini kembali disebutkan dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca berangka tahun 1365 Saka.

Dalam pupuh ke-13 disebutkan Pane sebagai bagian dari negeri-negeri di Sumatera yang di bawah pengaruh mandala Majapahit. Singhasari melalui Ekspedisi Pamalayu berhasil menarik Kerajaan Malayu Dharmasraya masuk dalam pengaruh Singhasari.

Karenanya, segenap negeri bawahan Dharmasraya, seperti Palembang, Teba, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiyang, Perlak, Padang Lawas, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, dan Barus pun, masuk dalam lingkungan pengaruh Singhasari dan kemudian diwarisi oleh Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Kerajaan Panai dikenal sebagai wilayah yang kaya akan hasil alam, khususnya emas dan hasil hutan. Kekayaan inilah yang menjadikannya sebagai target diplomasi dan ekspansi militer oleh imperium besar pada zamannya.

Sepanjang sejarahnya, status politik Panai berganti-ganti sebagai kerajaan bawahan (vassal), mulai dari menjadi bagian dari mandala Sriwijaya, beralih ke Dharmasraya, hingga akhirnya dikuasai oleh Majapahit.

Minimnya sumber sejarah dan sedikitnya prasasti yang menyebutkan kerajaan ini menyebabkannya kurang begitu dikenal.

Walaupun kurang dikenal, kerajaan Buddha beraliran Tantrayana ini meninggalkan peninggalan belasan candi-candi Buddha yang tersebar di kawasan Percandian Padanglawas, yakni sebanyak 16 bangunan, salah satunya Candi Bahal.

Biaro Bahal, atau Candi Bahal I, II, dan III yang terletak di Desa Bahal, Padang Bolak, Padang Lawas ini memiliki arsitektur bata merah yang khas dengan relief bernuansa ajaran Buddha Esoterik atau Tantrayana. (*)

Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
Post a Comment