Unik dan Berfilosofi, Ini Dia Tradisi-tradisi Memecahkan Barang Pecah Belah di Dunia
Smallest Font
Largest Font
| Foto: Dok UNGKIT.COM/Google Gemini |
UNGKIT.COM - Berbagai negara di dunia memiliki tradisi unik memecahkan barang pecah belah dengan filosofi yang beragam, mulai dari keberuntungan, kebersamaan, hingga penghormatan terhadap sejarah benda tersebut.
Di Jerman, ada tradisi pra-pernikahan di mana keluarga dan tamu mengumpulkan barang pecah belah dari porselen atau keramik lalu memecahkannya bersama-sama untuk membawa keberuntungan.
Tradisi ini disebut polterabend, berasal dari kata Jerman poltern, (membuat suara bising, atau ribut) dan abend (malam). Polterabend, biasanya diadakan satu malam sebelum hari pernikahan, atau sekitar satu minggu sebelumnya.
Keluarga dan teman-teman calon pengantin datang membawa piring, mangkuk, atau barang porselen bekas untuk dipecahkan bersama-sama di depan rumah.
Pengantin kemudian membersihkan pecahan tersebut bersama-sama. Hal ini menyimbolkan kerja sama agar mereka kuat menghadapi berbagai tantangan dalam rumah tangga kelak. Sesuai pepatah Jerman: "Scherben bringen Glück" (pecahan membawa keberuntungan) serta diyakini dapat mengusir roh jahat.
Di Yunani, juga ada tradisi memecahkan piring saat perayaan, seperti pernikahan atau pesta tradisional (mencapai puncaknya era 1960–1970-an).
Piring atau gelas dipecahkan secara sengaja ke lantai saat suasana meriah. Hal itu sebagai bentuk ekspresi kegembiraan yang meluap-luap. Saat ini, praktik ini mulai jarang dan sering digantikan oleh piring plester demi keamanan.
Selain Jerman dan Yunani, di Denmark ada tradisi melempar piring saat pergantian malam tahun baru. Warga sengaja melemparkan piring atau barang pecah belah bekas ke arah pintu depan rumah tetangga, teman atau kerabat.
Tradisi ini dipercaya dapat membawa keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang baru. Konon, semakin banyak pecahan piring di depan pintu, semakin banyak pula teman atau keberuntungan yang mendatangi.
Di Jepang justru malah kebalikannya. Alih-alih dibuang, barang yang pecah justru disatukan kembali menggunakan getah pohon dan dilapisi serbuk emas, perak, atau platinum.
Alih-alih merahasiakan bagian yang pecah, tradisi yang disebut kintsugi ini justru mempertegas retakan tersebut dengan kilau emas agar sejarah dan perjalanan objek tersebut terlihat nyata.
Kintsugi adalah seni tradisional Jepang untuk memperbaiki tembikar, keramik, atau porselen yang pecah menggunakan pernis khusus (urushi) yang dicampur dengan bubuk emas, perak, atau platinum.
Kata kin berarti "emas" dan sugi berarti "menyatukan", atau disebut juga dengan kintsukuroi yang berarti perbaikan dengan emas.
Seni itu berkembang pesat sekitar abad ke-15 (periode Muromachi), berawal dari kisah seorang pemimpin Jepang (shogun) yang mengirim mangkuk teh kesayangannya ke China untuk diperbaiki, tetapi kembali menggunakan staples logam yang tidak sedap dipandang. Dari situ, para perajin mencari cara perbaikan yang lebih indah.
Kintsugi mengajarkan bahwa kerusakan bukanlah akhir atau aib, melainkan bagian dari sejarah yang membuat benda tersebut menjadi jauh lebih indah dan bernilai. (*)
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.