Daratan Baru Terbentuk Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau Ramai di Medsos Hingga Pemberitaan
Smallest Font
Largest Font
![]() |
| Ilustrasi/Foto: Google Gemini/UNGKIT.COM |
LAMPUNG, UNGKIT.COM - Ramai di media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, X, Treads hingga pemberitaan mengenai kemunculan daratan baru pasca erupsi Anak Gunung Krakatau (GAK) di Selat Sunda beberapa waktu lalu.
Daratan baru seluas sekitar 32,8 hektar tersebut muncul persis di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan.
Kemunculan daratan baru ini memunculkan spekulasi dan ada yang menyebut daratan itu "cucu" Gunung Krakatau, atau anak dari Gunung Anak Krakatau.
Tapi, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti menyebut, daratan itu bukan gunung api independen, melainkan sebuah endapan dari material vulkanik hasil erupsi.
"Daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," kata Daryono, dalam akun resminya X, Kamis (24/9/2026).
Sebelumnya, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, Rabu (23/9/2026) membenarkan fenomena daratan tersebut terbentuk dari material hasil letusan yang terlontar dan menumpuk di sekitar kawasan gunung api.
Menurut Suwarno, daratan ini tidak muncul dalam satu waktu atau secara tiba-tiba. Menurutnya, material dari aktivitas atau hasil erupsi Gunung Anak Krakatau sejak beberapa waktu lalu secara bertahap menumpuk di kawasan itu.
Dikatakannya, kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki saluran atau pipa magma yang memungkinkan bergerak mencari celah untuk keluar ke permukaan.
Serupa tanggapan Badan Geologi Kementerian ESDM yang menyebutkan kalau daratan itu terbentuk dari material erupsi.
Kemunculan daratan baru itu terdeteksi setelah episode erupsi menerus pada 4-6 September 2026. Erupsi berlangsung sekitar 25 jam dan menghasilkan aliran lava serta material piroklastik.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati, S.T., M.Sc., mengatakan analisis citra satelit Sentinel menunjukkan adanya penambahan daratan.
“Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 hektar,” ujar Rita melalui keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Selain daratan baru yang "menyembul" kepermukaan yang berada di antara tubuh Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, citra satelit juga mendeteksi dua gumuk daratan kecil di sisi barat laut dan tenggara tubuh gunung api akibat magma encer yang keluar melalui jalur bukaan memanjang.
Penambahan daratan di sektor barat laut hingga barat-barat daya itu juga berkaitan dengan pengendapan material piroklastik atau endapan dari pecahan material vulkanik, dan aliran lava dari erupsi menerus di tanggal 4-6 September 2026.
Hingga kini, status Gunung Anak Krakatau berada di Level II (Waspada) dengan larangan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi dan tidak mendekati area dua gumuk baru dalam radius 1 kilometer demi keamanan.
Badan Geologi masih terus melakukan pencocokan citra satelit dan pengecekan langsung guna memastikan status morfologi daratan tersebut. (*)
Baca Juga:
Dilarang keras mengambil konten (teks/tulisan, visual foto, gambar, ilustrasi, audio dan video) di website ini tanpa izin tertulis dari UNGKIT.COM. Siapa saja diperbolehkan menyalin link atau membagikan (share) konten UNGKIT.COM.
